Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Tuesday, March 10, 2015

Berharap Mati di Bawah Laut Bersamamu

“Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan dan akan tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke sekoci untuk menyelamatkan diri. Sesampai di sekoci, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap suaminya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal yang dia tumpangi benar-benar menenggelamkannya.”

Guru yang menceritakan kisah itu bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian murid menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu egois!” “Enggak tahu malu!”

Tetapi guru itu menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru kemudian meminta murid yang diam itu menjawab.
“Guru, saya yakin istri itu pasti berteriak: Tolong jaga anak kita baik-baik,” kata murid itu.

Guru terkejut. “Apa kamu sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya?” tanya guru.

Murid itu menggeleng. “Belum. Tetapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar. Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak-anak mereka sendirian.”

“Bertahun-tahun kemudian, setelah sang suami meninggal, anak-anak menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dalam buku harian itu tertulis: Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak-anak kita, aku harus membiarkanmu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Demikianlah. Pelajaran moralnya adalah kebaikan dan kejahatan itu tidak sesederhana yang kita kira. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti. Karena itulah kita jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya






M. Husnaini

Tuesday, December 3, 2013

Rasakan Manisnya Bukan Pahitnya

Menipu..
Bila lisan berkata tak sakit, padahal hati seakan mau patah ditinggalkan dia yang disayang..
Menipu..
Bila setiap hari menyimpan niat dalam diri untuk melupakannya, padahal dia juga yang muncul dalam kotak memori bersama dengan kenangan yang ada
Menipu..
Bila berjanji tak mau lagi cerita tentang dia, padahal akhirnya dia juga yang dicurhatkan kdan masih mencari tahu saat ini bagaimana cerita kehidupannya
Menipu..
Bila diri ini pernah menyimpan niat untuk takkan menangis karena dia, padahal akhirnya dia juga yang masih sering ditangisi

Serius...diri ini pernah merasakan semua itu...
Pernah sakit sampai demam bila ditinggalkan..
Pernah rasa semangat dalam diri ini hilang seperti hilangnya dia dari hidup ini..
Tapi sungguh Allah Maha Hebat... di saat merasa kehilangan
Mendekat kepadaNya..diri ini menangis dan memohon supaya ditarik rasa sakit di hati ini..
Mendekat kepadaNya..diri ini memohon –tak hentinya- agar dihilangkan beban kecewa hati ini..
Mendekat kepadaNya..diri yang lemah ini berdoa agar diberikan kekuatan supaya ridha atas kehilangan dia dan juga ridha atas jalan yang dipilihkanNya..

Dan perlahan..semangat tumbuh dan sadar diri ini, bahwa masih ada orang lain yang lebih susah dari padaku..lebih sedih hidupnya dari padaku..dan perlahan fikiranku menasihatiku agar bersabar dan ridha atas apapun ketentuan dan takdir yang Dia tetapkan atasku.

Dan semakin lama, diri ini mulai memahami..
Mulai menjadi kuat..mulai belajar senyum dengan ikhlas..
Mulai menyimpan tekad untuk menjadi lebih baik..dan mulai belajar melepaskan dia..

Sungguh memang diri ini faham..sungguh sangat faham, hati memang sakit, bila ditinggalkan orang yang kita sayang..
Tapi pasti ada sebab..selalu pasti ada hikmah yang Allah tunjukkan,
Selalu pasti ada ilmu yang Allah ajarkan..bersyukur atas nikmat yang masih kau miliki.

Lihatlah pada hikmahnya atas kehilangan bukan pada kesedihannya
Rasakan pada manisnya kehilangan bukan pada pahitnya

Berdoalah yang baik kepada dia, bukan makian. Allah pasti mengganti lebih baik daripada dia. Yakinlah..
Jangan lupa..jadilah hamba Allah yang lebih baik akhlaknya, imannya, takwanya. Sebab lelaki yang baik untuk wanita yang baik. Begitu juga sebaliknya



Wednesday, November 20, 2013

Abang Nikah Lagi Sana

Dulu, ada seorang istri yang rajin mengaji dan berbuat taat pada suaminya. Seperti biasa ia setelah hadir dari pengajian langsung pulang ke rumah untuk menyediakan keperluan sang suami.

Disaat suaminya pulang kerja, sudah menjadi kebiasaannya untuk bertanya pada sang istri. Nama si istri itu adalah Fathimah. Suaminya bertanya: “Meh... Mameh... ngomong-ngomong tadi ngaji membahas bab apaan? Kayaknya Abang belum mendenger dari Mameh.”

Sambil mengantarkan teh hangat si istri menjawab: “Oh iya Bang, tadi Mameh ngaji kata guru: “Siapa orangnya yang punya suami terus bisa menyenangkan hati suaminya dengan menyuruhnya nikah lagi, dakhalal jannah (dijamin masuk surga) Bang.”

“Oh… itu Meh,” sela si suami.
“Iya Bang. Kalau bisa Abang nikah lagi deh, biar Mameh masuk surga gitu Bang.” Si istri sembari tanya penuh manja.

Dan langsung dijawab oleh si suami: “Dah-dah Meh… jangan yang engak-enggak ntar Mameh menyesal.”

“Kagak Bang, nggak bakalan dah. Abang lekasan nikah deh,” sahut si istri.

Kejadian seperti itu terus berulang. Sampai pada satu hari sang suami pulang lebih awal dari biasanya sedang sang istri lagi berbelanja. Sepulang dari pasar sang istri sembari penuh tanya bertanya pada sang suami: “Tumben Bang pulangnya agak cepet?”

Dijawab: “Iya nih ada perlu sama Mameh.” Sembari mendekat kepada si istri suami melanjutkan pembicaraanya: “Gini nih Meh. Berhubung Mameh tiap Abang datang, Abang disuruh nikah, nah... sebenernya waktu Mameh nyuruh yang ke tujuh kali, ya udah abang nikah lagi.”

“Ya Allah Bang Alhamdulillah, Abang dah nikah lagi...” sahut si istri tanda gembira.

Dan suaminya melanjutkan pembicaraannya: “Nah Meh, sekarang juga bini baru Abang sudah Abang bawa ke sini. Tuh ada di kamar.” Sambil menuntun istrinya menuju depan kamar.

“Tuh Meh dia lagi istirahat,” kata si suami.

“Alhamdulillah Bang,” kata si istri pada suaminya.

Lalu si istri bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan susu untuk suaminya, dan si istri tak sadar sedang diikuti oleh suaminya. Dengan wajah yang waswas dan keringat yang bercucuran bagai orang bingung, akhirnya si suami bertanya: “Lagi ngapain Meh?”

“Oh… ini Bang lagi mau bikin susu buat Abang sama bini baru Abang. Tapi susunya habis. Tapi nanti Mameh bakalan dadak memeras ke kandang sapi.”

Menjawab pertanyaan si suami dengan nada sedikit menahan tangis, dan lagi-lagi si istri tak sadar diikuti suaminya ke kandang sapi miliknya. Lalu sang istri mengambil ember dan siap memeras susu untuk suaminya dengan sedikit berkata: “Dah tumbun nih sapi, lama benar kagak keluar susunya. Sudah pegal nih tangan memerasnya, masih kagak ngocor juga nih susu.”

Si suami kembali bertanya: “Meh, lagi ngapain sih?”

“Ini nih Bang, lagi meres susu sapi,” sahut si istri sambil mengelap keringatnya.

Lalu suaminya mendekat sambil memberi tahu pada si istri: “Meh, Mameh... pantas tuh susu nggak keluar-keluar, mameh salah peras. Yang Mameh peras sapi jantan. Tuh sapi betinanya di kandang sebelah. Sini Abang peresin.”

Setelah ember penuh dengan susu, si istri langsung mengambilnya untuk dimasak. Lagi-lagi si istri tak merasa diikuti suaminya.

Terlihat kegelisahan dari wajah sang istri yang sedang mengaduk air susu. Sampai pada waktu ingin menuangkan gula, si suami dengan sigap mencegahnya: “Meh... Mameh kenapa sih dari tadi salah melulu? Ini garam bukan gula, dari tadi salah terus gak seperti biasanya.”

Akhirnya si suami merasa tak tega juga. Lalu si istri diajak ke kamarnya. “Meh, sebenarnya Abang ini tahu rasa hati Mameh. Sinih-sinih…” sambil mengajak si istri ke tempat tidur yang di sana ada istri baru suaminya.

Pecah tangis si istri tak terbendung lagi, dan akhirnya si suami berterus terang: “Mameh sebenarnya abang ini belum nikah. Nih Mameh liat! Ini cuma kedebog pisang yang Abang pakein pakaian perempuan. Tuh kedebong pisang kan?”

Sambil berteriak si istri berkata: “Ya Allah Bang, saya kira Abang dah nikah lagi...”

Langsung saja disahuti oleh suaminya: “Fathimeh Meh... Abang mah pengin kawin lagi, tapi Abang menjaga perasaan Mameh. Tadi baru dites saja Mameh jadi salah buatannya, gimana kalau beneran...”

Si istri sambil malu-malu langsung mencium tangan suaminya: “Ih Abang tahu aja...”

Dan suaminya pun kembali menasehatinya: “Meh, kalau urusan ibadah yang bakalan Mameh masuk surga tanpa hisab yang Abang tahu bukan istri menyuruh nikah lagi kepada suaminya. Cuman ridha… keridhaan si suami yang akan membuat istri masuk ke surganya Allah Swt.”






(Oleh al-Ustadz Antoe Djibrel: Cuplikan ini diambil dari kaset dokumen tahun 1965, pidato Asadul Mimbar ad-Da’i Ilallah wa Rasulih wal Mujahid fi Sabilih al-Muhaddits al-Musnid al-Imam al-‘Arif Billah al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan).

Source: http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/11/wanita-pengharap-surga-dari-suaminya.html
Sya'roni As-Samfuriy, Cilangkap 19 Nopember 2013

Monday, November 18, 2013

Aku Harap Kau Selalu Ingat

Dahulu, di kota Kufah terdapat seorang pemuda yang tampan dan rajin beribadah. Suatu saat dia mampir ke kampung Bani An-Nakha’. Di sana ia melihat seorang wanita cantik sehingga jatuh cinta padanya. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun memiliki perasaan yang sama terhadap pemuda itu. Karena perasaan cintanya itu, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamarnya. Tetapi ayah wanita itu menjawab bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, keduanya tetap saling mencintai.

Wanita itu akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya:

“Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji denganmu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan memberikan jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.”

Pesan itu dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya:

“Aku tidak setuju dengan dua tawaranmu itu. Sungguh aku merasa takut kalau aku berbuat maksiat kepada Tuhanku, aku akan tertimpa siksaan pada hari yang besar (kiamat). (QS. Yunus: 15). Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia bergumam dalam hati, “Rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mengisi hidupnya hanya dengan beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan semakin kurus menahan perasaan cinta dan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Sang pemuda merasa sedih dengan meninggalnya kekasihnya itu. Ia pun sering berkunjung ke kuburannya. Sambil menangis ia mendoakannya. Suatu hari dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Wanita itu menjawab, “Sebaik-baik cinta -wahai orang yang bertanya- adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan.”

Pemuda itu bertanya lagi, “Kalau begitu, hendak pergi kemana kamu sekarang?”

Wanita itu menjawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.”

Wanita itu menjawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Ta`ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Pemuda itu bertanya lagi,"Kapan aku bisa melihatmu?"

Wanita itu menjawab,"Tak lama lagi kau akan datang melihatku."

Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Alloh menuju ke hadirat-Nya, meninggal dunia.





Sumber: "I'tilalul Qulub" karangan Al-Kharaithi

Saturday, November 2, 2013

Dibonceng Supra Gak Mau Mesra

Beginikah Wanita Jaman Sekarang ??

Di Jemput Vespa Malah Gak Mau Jumpa

Di Bonceng Supra Gak Mau Mesra

Di Bonceng Karisma Bilang Merana

Di Bonceng Scoopy Cuma Cium Pipi

Di Ajak Naik Angkot Malah Melotot

Di Ajak Naik Bus Malah Minta Putus

Di bonceng RG madep mengguri.

Di Ajak Jalan Kaki Malah DiMaki Maki

Di Ajak Naik Satria FU
Wouww Sepanjang Jalan Bilang I LOVE U

Apalagi Naik Ninja Baru Mau Mesra Dan Manja.

Diajak naik Innova dan Avanza dikasih dada dan paha.

Katanya cinta buta tapi kok bisa bedain mana Ninja mana mana Innova Supra dan mana Vespa...

tapi ada benar juga cinta buta, karena dia suka meraba.
:(



Tuesday, October 29, 2013

Ya Allah, Sunggu Aku Mencintainya

Kalau kamu mencintai saudaramu, maka sampaikanlah rasa cintamu padanya. Katakan padanya,

"Aku mencintaimu."

Kalau tidak mampu menyampaikan, katakanlah dalam doamu,

 "Ya Allah, sungguh aku mencintainya." 

Karena kita tidak tahu, siapa di antara saudara kita yang kelak akan menjadi penolong kita di hari kiamat. Sedangkan Allah telah menjanjikan sebuah naungan agung bagi dua orang yang saling mencintai karena Allah, yang bertemu dan berpisah hanya karena-Nya.

Orang-orang yang saling bekerjasama dalam maksiat di dunia, akan saling cela di akhirat. Maka, kita butuh saudara dalam ketaatan, agar dapat menolong kita kelak.
Semoga kita termasuk di antara mereka yang saling mencintai karena Allah. Amin.







Kebersamaan Yang Tak Meninggalkan Kesan

Salah satu cara menimbulkan cinta juga adalah dengan seringnya bersama.
Dalam istilah jawa “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”

Banyak diantara kita yang jatuh cinta kepada orang-orang yang berada di sekitarnya karena seringnya bersama. Pergi sekolah sama-sama, pulang sama-sama, mengerjakan tugas bersama, bahkan dihukum pak guru pun bersama.

Atau karena sering bertugas bersama pun dapat menimbulkan rasa cinta.

Betul??

Namun tentunya kebersamaan yang dimaksud adalah kebersamaan memiliki nilai atau dengan istilah di film bad boys "Quality Time".
Kebersamaan yang tidak menimbulkan kesan apapun tidak juga menimbulkan rasa cinta, seolah angin lalu.

Ada tetapi tiada lebih kurang begitulah katanya.

Nah, diantara kita ada yang sudah berusia 50 bahkan 60 tahun, itu artinya sudah sekitar 35 hingga 45 tahun baligh. Dimana setiap harinya minimal 5 kali shalat wajib, lebih kurang 150 kali shalat dalam sebulan atau 1.800 kali dalam setahun yang bila dikalikan 35 tahun lebih kurang 63.000 kali.

Sekian banyak shalat yang merupakan media paling agung untuk bersama Allah, sudahkah menimbulkan rasa cinta?
Image Source
Atau jangan-jangan shalat yang telah dilakukan itu tidak ada kesannya... sehingga shalat atau pun tidak tak ada bedanya...?




#tunjuk_diri





Tanda Jatuh Cinta

Sesuai hadits Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an katsura dzikruhu), sabda Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya
(man ahabba syai'an fa huwa `abduhu).

Nabi menyebutkan ciri dari cinta sejati ada tiga :
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/ diri sendiri.
Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam i`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.


Wednesday, May 29, 2013

Nasehat Untuk Putriku

"Nasehat Untuk Putriku"

Wahai putriku, aku masih teringat masa kecilmu, tampak kepolosanmu tanpa dosa. Terlintas dibenakku sebuah makna tanggung jawab. Dirimu pun akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Dan tanpa terasa engkau telah di ambang kedewasaan. Tergugah kesadaranku bahwa tiba-tiba dirimu dalam suasana yang amat mengkhawatirkan. Engkau berada pada zaman kejayaan iblis dan bagundal-bagundalnya dari bangsa manusia yang setiap saat siap hancurkanmu dengan segala yang dimilikinya. Zaman dengan budayanya dan zaman dengan pelaku-pelakunya.
Source Image

Maafkan aku dan mohonkan aku ampun kepada Allah jika ternyata aku pun kurang serius memperhatikanmu. Aku telah lalai membekalimu hal-hal yang amat kau butuhkan kelak di akhirat. Aku jarang memperkenalkanmu kepada Allah dan Rasulullah SAW. Sekolah yang aku pilihkan untukmu hanya sekolah yang menghantarmu berbangga dengan dunia tanpa aku imbangi dengan pendidikan agama, yang sebenarnya lebih engkau butuhkan. Bahkan, Aku sering sodorkan padamu hal-hal yang membahayakanmu. Aku telah memasukkan pesan dan bisikan musuh-musuhmu ke rumahmu. Aku telah hadirkan dalam kehidupanmu potret moral yang busuk melalui layar televisi yang kau nikmati setiap saat. Aku pun telah membekalimu dengan handphone kontrol iblis yang senantiasa menyertaimu yang sebenarnya justru menyulitkanku untuk mengawasimu. Bahkan aku pun sering tidak peduli dengan perkembangan akhlakmu setiap saat. Aku hanya memikirkan kebutuhan lahirmu, makan, minum, baju dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan hati dan jiwamu yang menghantarmu ke dalam kebahagiaan dalam keabadian di akhirat tidak pernah aku pikirkan. Bahkan kadang baju yang kubelikan pun baju yang mengundang nafsu pengikut iblis. Aku sering menjadi orang dungu yang hanya bisa bengong melihat dirimu berdandan untuk membangkitkan hawa nafsu budak iblis. Kecemburuanku kadang hilang dan menjadikan diriku kurang berarti bagimu.

Wahai putriku bantulah aku untuk mengembalikan kemuliaan pada dirimu. Maafkan aku jika saat ini aku berbeda dengan hari yang lalu. Kemarin aku lemah dan dungu yang amat membahayakanmu. Dan hari ini aku telah menyadari bahwa aku harus meninggalkan kedunguan dan kelemahanku demi kemulyaan dan kejayaanmu kelak diakhirat.

Aku tidak ingin disebut tolol dan dungu dengan pendidikanmu yang tidak membawa keselamatanmu di akhirat. Aku tidak mau di bilang bodoh melihat pakainnmu yang separoh hati kau kenakan, sebagian badanmu tertutup dan sebagian lagi terbuka. Aku tidak ingin kau dihinakan oleh mata jalang hamba hawa nafsu. Maka perhatiakan bahwa dirimu harus kau mulyakan. Berdandanlah dengan dandanan yang berwibawa dihadapan perampok-peramopok kehormatan. Jadikanlah mereka takut mendekatimu dan jera jika mereka berusaha menjailimu. Jangan kau rendahkan dirimu dengan kau umbar tubuhmu disana sini. Sebab jika dirimu tidak bisa menghargai dirimu sendiri maka orang lainpun tidak menghargaimu.

Kemulyaanmu wahai putriku pada kepribadianmu. Jika engkau berwibawa dan mulya maka lelaki jalang hamba hawa nafsupun akan enggan mendekatimu. Senyummu amat mahal jangan kau berikan kepada semua orang sebab tidak semua orang tahu nilai senyummu. Suaramu pun adalah nilai dirimu. Jangan bersuara yang mengundang nafsu di hadapan bagundal iblis sehingga mereka meremehkanmu. Telah banyak gadis-gadis seumurmu telah direndahkan oleh mereka. Lihatlah di sekitarmu, anak gadis sebaya denganmu telah tenggelam dalam kenistaan. Harga dirinya telah digadaikan dengan karir dan ketenaran..

Putriku, Sungguh itulah bahasa cinta dan kasihku yang engkau butuhkan saat ini. Aku sadar bahwa engkau saat ini sudah tidak butuh orang tua yang hanya bisa memanjamu. Akan tetapi saat ini engkau butuh orang tua yang mendidikmu dan menuntunmu kepada kemulyaan.
Jangan heran jika aku kadang cerewet wahai putriku dan songsonglah masa depanmu dengan kemulyaan.

Wallahu a'lam bishshowab





Oleh : Abuya Yahya, Majelis al Bahjah Cirebon

Friday, May 24, 2013

Yakin Jawabanmu Benar ??

Isilah titik-titik di bawah ini :

1. Allah menciptakan TERTAWA dan .......
2. Allah itu MEMATIKAN dan ......
3. Allah menciptakan LAKI-LAKI dan .......
4. Allah memberikan KEKAYAAN dan ......



Mayoritas kita akan menjawab:
1. MENANGIS.
2. MENGHIDUPKAN.
3. PEREMPUAN
4. KEMISKINAN.

Yakin jawaban itu benar?

Untuk mengetahui apakah jawaban di atas itu benar atau tidak, mari kita cocokkan jawaban tersebut dengan rangkaian firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat An-Najm (53), ayat: 43-45, dan 48.

sebagai berikut:

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ
"dan Dia-lah yang menjadikan orang TERTAWA dan MENANGIS." (QS. 53:43).

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ
"dan Dia-lah yang MEMATIKAN dan MENGHIDUPKAN." (QS. 53:44).

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ
"dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan LAKI-LAKI dan PEREMPUAN. " (QS. 53:45).

ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ
"dan Dia-lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN." (QS. 53:48).

Ternyata jawaban kita umumnya BENAR hanya pada no. 1-3. Tapi,
jawaban kita untuk no. 4 umumnya SALAH.

Jawaban versi Allah dalam Al-Qur'an bukan KEMISKINAN, tapi KECUKUPAN.

Masya Allah..!!!

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya memberi KEKAYAAN dan KECUKUPAN kepada hamba-Nya.

Dan yang "menciptakan" KEMISKINAN adalah diri kita sendiri. Hal ini bisa karena ketidakadilan ekonomi, malas, bisa juga karena kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikirkita sendiri. Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur, walaupun hidup pas-pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa CUKUP.

Jadi, marilah kita bangun rasa KECUKUPAN di dalam hati dan pikiran kita, agar kita menjadi hamba-Nya yang selalu BERSYUKUR.

Semoga bernilai ibadah dan semoga bermanfaat.
Aamiin Ya Rabbal'alamiin.











Salam santun.
Abdul Royan

Friday, May 10, 2013

Kadang Saat Sesak

*Saya kira begitu

Saya kira, burung tak punya rasa sedih,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa terbang,
Kapanpun mereka mau

Saya kira, ikan tak punya rasa sesal,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa berenang,
Kapanpun mereka ingin

Karena manusia,
Kadang saat sedih, sering saat sesal
Mereka jadi berhenti makan, berhenti mandi,
Bahkan berhenti berpikir sebagai manusia

Aih, saya kira, cacing juga tak punya rasa sesak
Karena nampaknya, mereka selalu bisa menggali tanah
Kapanpun mereka maju

Juga ayam jago, tak punya rasa kecewa
Karena nampaknya, setiap pagi dia selalu berkokok
Kapanpun, hari apapun, mau apapun

Karena manusia,
Kadang saat sesak, sering saat kecewa
Mereka jadi berhenti maju, nggak move on, malas bangun pagi
Bahkan kepengin hari menjadi berhenti baginya

Mungkin begitu
Mungkin juga tidak demikian

Tere Lije

Membangun "Rumah" Tanpa Tangga

MACAM-MACAM RUMAH TANGGA

Nikah merupakan pintu masuk menuju Rumah Tangga. Maka sangat urgen kita pertanyakan "Rumah tangga macam apa yang akan kita bangun?"

Di bawah ini ada beberapa contoh rumah tangga yang ada di sekitar kita (bisa ditambahkan lagi dan silakan dipilih mana yang cocok):

1. Rumah Tangga Bisnis

Pada awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa keuntungan materi yang akan diperoleh bila aku menikah dengan si fulan, berapa tabunganku akan bertambah saat menikah dan setelah menikah. Apa pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan mengurangi. Dan bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira dapat menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini dst. Rumah tangga seperti ini banyak sekali ditemukan di negara Barat yang hanya berfikir pada materi.

Allah telah berfirman: “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah yang memperoleh balasan berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS. 34:37).

2. Rumah Tangga Militer

Yang terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau komando komando layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekuensinya adalah hukuman, baik berupa umpatan atau bahkan pukulan. Di sini tidak ada suasana dialogis yang mesra, anggota keluarga yang berperan sebagai kopral, selalu merasa tertekan dan takut bila ada sang jendral di rumah, dan selalu berdoa dan berharap agar sang jendral segera berlalu keluar rumah.

3. Rumah Tangga Arena Tinju

Bila suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi yang setara serta pendapatnya lah yang benar dan harus terlaksana. Bila ada perbedaan dan salah faham sedikit saja, maka digelarlah pertandingan yang dapat berupa, baku cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring terbang). Masing-masing berusaha membuat KO lawannya dengan berbagai taktik. Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.

4. Rumah Tangga Islami

Di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik individu maupun seluruh anggota. Mereka berkumpul dan mencintai karena Allah, saling menasehati ke jalan yang ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Setiap anggota betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Rumah tangga yang menjadi panutan dan dambaan ummat yang di dalamnya selalu ditemukan suasana sakinah, mawaddah dan rahmah.

Merupakan surga dunia, seperti yang sering kita dengar, Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Baiti jannati”, Rumahku adalah surgaku.” Rumah yang dimaksud di sini tentunya bukan bangunan fisiknya yang bak istana dengan taman yang luas dan kolam renangnya, tapi rumah di sini adalah rumah tangga “ruh” dari rumah tersebut.


Silakan dipilih bagi Anda sekalian yang sudah mendekati dan sudah berumah tangga, dan silakan kembali ngaplo buat para jomblo.




Pacaran Itu Ngapain ?

*Kalian tahu persamaan antara mafia dan pacaran?
Oleh : Darwis Tere Lije

Kita sebut saja abang kita ini namanya abang Togar--saya minta maaf jika ada yang namanya Togar, ini hanya cerita. Abang Togar kita ini suka sekali mabuk-mabukkan, nongkrong di lapo pinggir jalan dekat pasar inpres. Alkisah, pada suatu hari Abang Togar pesan itu tuak dua botol. Di minum sama dia, tertawa-tawa, sudah siap mabuk, aduh, sialan kata Abang Togar, ternyata tuak itu palsu, bukannya mabuk, cuma kembung perutnya. Maka marahlah abang Togar, ngamuk-ngamuk di lapo itu, "Kurang ajar, siapa ini yang berani jual tuak palsu, dasar penipu, pengkhianat, tidak tahu malu. Saya sudah rajin minum di sini, setia sekali minum di sini, ternyata dikhianati. Dasar tidak berperasaan. Saya benci."

Puuh, kita lupakan dulu Abang Togar--biarkan dia terus ngoceh, marah-marah, di depan lapo itu, ditonton sepasar inpres.

Tokoh kedua kita, sebut saja namanya Mas Joko--lagi-lagi saya minta maaf jika ada yang namanya Joko, ini hanya cerita. Mas Joko ini suka sekali membeli DVD bajakan. Wah, tak terbilang, film asing, film lokal, apalagi film dari novel tere liye, lebih semangat dia bajak, pergi dia ke sekitaran glodok Jakarta yang ngetop itu. Alkisah, pada suatu hari Mas Joko membeli 20 film, dibawa pulang, siap-siap ditonton, ternyata DVD itu rusak semua, bukannya asyik nonton, malah jengkel marah-marah, melempar dvd player. Maka marahlah mas Joko, ngamuk2 di lapak penjual dvd bajakan, "Dasar kau pengkhianat, setiap minggu sy beli dvd di sini. Dasar tidak tahu malu, saya sudah setia beli sama kamu, ternyata kau penipu. Dasar tidak berperasaan. Saya benci."

Aduh, sudahlah, kita tinggalkan dulu Mas Joko--biarkan dia ngamuk-ngamuk di lapak dvd bajakan, membuat ramai glodok, ditonton banyak orang.

Kita bergerak ke inti kenapa tulisan ini dibuat. Kita sebut saja namanya, eh, banyak ternyata, susah sy sebut satu-satu. Kita sebut saja Mr. X dan Miss Y. Wuih, Mr X dan Miss Y ini adalah orang-orang yang pacaran. Lihatlah, banyak sekali yang pacaran, mesra benar di dunia maya, bilang I love U setiap hari, mengganti nama demi pasangannya, pasang foto paling romantis sedunia, sudah kayak menikah seratus tahun saja betapa mesranya orang-orang ini. Alkisah, pada suatu hari Mr X dan Miss Y bertengkar, lantas putus, 'lo gue end', gamer over. Maka apa yang terjadi, hilang sudah semua kata mesra yang pernah ada, dinding facebook mereka sekarang dipenuhi dengan makian, "Dasar kau pengkhianat cinta, setiap hari gue perhatiin, ternyata penipu. Dasar tidak tahu malu, saya sudah setia mati-matian, ternyata selingkuh. Dasar tidak berperasaan. Saya benci."

Weleh, weleh, beda dengan Abang Togar yang ngoceh di depan lapo tuak sahaja, bikin ramai pasar, beda juga dengan Mas Joko yang cuma ngamuk di lapak dvd, bikin hangat suasana glodok, Mr X dan Miss Y ini ngoceh ke "seluruh dunia", bisa dilihat orang-orang dari London, New York, hingga pelosok-pelosok kampung--jika ada yang mau lihat sih. Seru sekali menontonnya.

Tapi, tapi oh tetapi ketiga hal ini, jelas ada samanya, jelas sekali ada benang merahnya, apa itu? yaitu: mereka ini sama2 protes/marah2 untuk hal yang sebenarnya aduh kita tahu sendirilah. Bersikukuh setia, loyal, menggunakan etika/standar, untuk hal yang sebenarnya tidak pada tempatnya.

Saya masih mending lihat etika di dunia mafia, saat salah-satu mafioso-nya memutuskan berkhianat, dia hanya tersenyum, mencabut pistol, "Ini semua hanya bisnis. Jangan dimasukkan ke hati." Begitulah, namanya juga mafioso, mau berkhianat, ya silahkan. Jangan diambil hati. Nah, namanya juga pacaran, mau berkhianat, ya silahkan. Tidak ada satupun hukum dunia dan akherat yang merestui mafia, sama dengan merestui pacaran.
Semoga paham.





M3 - Malam Minggu Mikir

~ Malem Minggu Mikir ~
Oleh : Darwis Tere Lije

Sebagian kecil penguasa kapital di dalam suatu sistem yang memanjakan orang-orang kuat, tentu diuntungkan besar-besaran. Harta melimpah, akses leluasa, dan tingkah polah pun bebas tak terbatas. Karena di sini uanglah yang berkuasa. Hukum bisa dibeli, peraturan bisa diutak-atik. Namun di sisi lain, pengurasan daya pikir dan upaya untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya secara material menimbulkan kejenuhan psikis bagi orang-orang ini.

Sehingga mereka memanfaatkan kuasa yang dimiliki untuk bersenang-senang, sebagai impas dari usaha mati-matian yang sudah dicapai. Pagar hukum tidak lagi menjadi penghalang, apalagi ‘sekedar’ norma, apalagi ‘hanya’ aturan agama. Foya-foya adalah pelampiasan mereka untuk menutupi kejenuhan psikis tersebut. Sehingga muncullah pandangan hidup yang cenderung mengarah kepada filsafat Epicurus;

“Makan, minum, dan bersenang-senanglah!”

Kita -tak terasa- digiring ke arah pandangan hidup semacam ini. Proses pendidikan di sekolah dipulas dengan atmosfer penuh persaingan antar-siswa, tekanan berupa beban mata pelajaran yang 'harus' dikuasai meskipun tidak digemari, serta padatnya jam belajar dengan berbagai macam ekstrakurikuler ataupun materi tambahan yang sebenarnya semakin meninggikan tembok pembatas antara pendidikan dan realita di masyarakat.

Hal ini berpengaruh ketika kita sudah bekerja dengan berbagai macam kepenatannya. Sehingga sebab akumulasi kepenatan selama hari kerja (Senin - Jum'at) yang notabene menjadi saat mengupayakan 'makan' dan 'minum', menjadikan Malam Minggu sebagai momen istimewa untuk 'bersenang-senang'.
Makanya, di sana-sana, Malam Minggu dijadikan ajang untuk melampiaskan berbagai macam hasrat, dari yang ringan sampai yang berat. Mulai dari dugem, mendem, hingga ehem-ehem.

(semoga) Selamat (di) Malam Minggu








Hati Yang Gundah

FIRMAN DALAM HADITS QUDSY UNTUK HATI YANG GUNDAH

“Wahai anak Adam! Siapa yang bersedih karena dunia, hal itu hanya akan menjauhkannya dari Allah.
Di dunia dia lelah, di akhirat mendapat susah. Allah akan membuat hatinya selalu risau, selalu sibuk
berkepanjangan, -miskin tak pernah bisa kaya, dan selalu diliputi oleh angan-angan.

Wahai anak Adam! Umurmu setiap hari berkurang, tapi engkau tidak mengetahui, Setiap hari Aku
datang membawa rezekimu, tapi engkau tak pernah puas dengan yang sedikit, dan tak pernah
kenyang dengan harta yang banyak.

Wahai anak Adam! Setiap hari aku berikan rezeki padamu. Sementara setiap malam para malaikat
datang pada-Ku membawa amal burukmu. Engkau makan rezeki-Ku, tapi engkau bermaksiat kepada-
Ku. Engkau berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Kebaikan-Ku tercurahkan untukmu, tetapi
kejahatanmy yang sampai kepada-Ku. Sebaik-baik kekasihmu adalah Aku. Sedangkan seburuk-buruk
hamba-Ku adalah engkau. Engkau lepaskan apa yang Kuberikan padamu. Kututupi keburukanmu
setelah sebelumnya terbuka. Aku malu padamu, tetapi engkau tak pernah malu pada-Ku.
Engkau
melupakan-Ku dan mengingat yang lain. Engkau merasa takut pada manusia, dan merasa aman dari-
Ku. Engkau takut pada murka mereka dan tidak takut dengan murka-Ku.”

----Hadis Qudsi, dikutip dari kitab Kimiya As-Sa’adah karya Imam Al-Ghazali

Friday, April 19, 2013

Tidak Menikah Why (Not) Final

Berkaitan dengan “dianjurkannya” seseorang agar tetap melajang/ jomblo sampai batas waktu tertentu. Atau bahkan menahan diri untuk tidak menikah sampai akhir hayat. Uraian tersebut pernah disinggung oleh beliau KH. Imam Makruf saat Haul Ponpes Hidayatul Mubtadi’in, disiarkan secara live (dan bisa di streaming online) di stasiun TV ahlussunnah wal jamaah yakni TV9 dan jaringan radio Madu FM serta direkam secara live juga oleh penulis (xixixi ^_^ ) yang pas bisa hadir (MP3 dapat download di sini) :

Bahwa hanya ada DUA pilihan, bagi para jomblowan dan jomblowati akhir zaman:


1. JANGAN KAWIN
Terlepas dari kesunnahan menikah. Dibolehkan (bahkan hampir naik tingkat menjadi “dianjurkan”) bagi umat Islam akhir zaman untuk tidak menikah.Sebentar lagi -mungkin sekitar beberapa abad ke depan- bahkan akan menjadi “diwajibkan” agar tidak menikah. Alasan dan latar belakangnya nanti dulu.
Khusus bagi kaum sawah/ salafy wahaby stop membaca sampai sini dulu, Para militan sawah yang selalu salah faham dan menuduh ini dan itu. Tidak usah diteruskan membacanya, nanti malah menjadi maksiat buat antum semua. Karena berkicau: INI GAK SESUAI SUNNAH!! BID’AH, SYIRIK!! xixixi


2. Bila pilihan pertama dilarang menikah, ternyata merasa keberatan. Akhirnya terpaksa memilih menikah, karena sudah berusaha ikhtiar dan sudah menemukan calon yang terbaik dan alasan lain yang tak tersebut satu persatu. Maka pilihan kedua bila sudah menikah: JANGAN PUNYA ANAK!! 

Sebagaimana ada dari beberapa ulama besar (klik di sini untuk mengenal beberapa di antaranya) yang tetap melajang karena lebih mencintai ilmu, keputusan tidak menikah di akhir zaman, lebih karena alasan “menjaga diri sendiri dan keluarga dari siksa api neraka”. Karena menutup satu lubang kesalahan lebih baik dari pada membuka satu lubang kebaikan. Mendahulukan untuk menjauhi, jalan kepada kemaksiatan itu nilainya lebih baik.
Source Image : www.klikrama.com


Dan di dalam taushiyah lain yang bertema tentang cara mendidik anak, oleh Abuya Yahya Z.M. (MP3 dapat dowload di sini) yang kalau tidak salah, juga pas dihadiri oleh beliau Habib Husain Ba’abud, Habib Helmy al Atthos dan Habib Muhammad bin Salim as Seggaf, semuga penulis tidak salah (memahami) inti pokoknya, berikut:


1. Menikah dan berkeluarga itu adalah ladang ibadah, karena menyempurnakan separuh agama. Namun juga, (bila tidak dipertimbangkan matang tentang kapasitas diri sendiri dan calon pendampingnya) bisa jadi malah akan menjadi ladang menuai dosa.

2. Agar tidak terjerumus ke dalam dosa, maka tuntutlah ilmu agama sebanyak-banyaknya sebelum menikah. (Baca selengkapnya disini)

3. Menikah yang awalnya untuk beribadah, ketika sudah punya anak dan belum tahu cara mendidiknya yang benar. Bisa saja niat berbelok dari jalur awal. Sebagaimana orang tua akan memperoleh kebaikan sebab anak yang sholeh, orang tua juga akan bertanggung jawab kelak atas perilaku tidak baik yang dilakukan oleh anak.

4. Meskipun orang tua ahli ibadah, namun bila anaknya tidak terdidik. Bisa jadi kelak anaknya yang akan menyeret kedua orangtuanya ke dalam siksa neraka. (dari kisah: seorang anak yang protes kepada Tuhan karena tidak rela melihat orang tuanya dimasukkan ke dalam surga, sementara ia yang sebagai anak kandungnya malah dimasukkan ke dalam neraka)

5. Umur insan siapalah yang tahu selain Allah. Sehingga saat kita telah tiada dan meninggalkan anak keturunan. Kepada siapa anak kita akan terasuh dan terdidik. Apakah kepada calon pendamping kita, yang belum tahu cara mendidiknya. Ingatlah hidup kita setelah mati, tetap mempertanggungjawabkan benih yang kita tanam, yaitu anak. Maka beruntung sekali jika setelah kita tiada, anak kita diasuh oleh seorang ayah atau ibu yang mengerti agama. Umur insan siapa yang tahu. Karena, kita tidak bisa memastikan apakah umur kita kelak bisa sampai mendampingi anak tumbuh dewasa.

6. Kesalahan mendidik anak juga tidak lepas dari sebab yang pertama. Yaitu ketika orang tua memilih pasangannya. Sudahkah kita memastikan calon pendamping kita itu menyejukkan hati, tidak hanya di dunia tetapi juga sampai kehidupan nanti.

7. Namun, mari sama-sama berbenah diri. Sudahkah diri kita ini pantas untuk mendapatkan calon pendamping yang baik. Sebagaimana firman-Nya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula. Yang nantinya akan menurunkan keturunan yang baik pula insyaallah.

8. Ushikum wa nafsiy bi taqwallah


Demikianlah dua taushiyah yang ditafsirkan oleh penulis sendiri. Dan untuk mendapatkan penafsiran yang lebih baik dan lebih lurus. Makanya segera didownload MP3-nya


Akhirnya setelah membaca dari awal sampai akhir:
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian I
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian II
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian III
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian Final


Apakah kesimpulan finalnya..
a. Tetap menjadi jomblowan / jomblowati
b. Semakin yakin untuk menuju jenjang pernikahan
c. Atau masih galau


Pilihlah C maka tulisan-tulisan ini akan tetap berlanjut. Xixixi (^_^)
Semoga bermanfaat.


Salam Menyan
(menyejukkan dan nyaman)




Tidak Menikah Why (Not) III

Menjelang usia 24 tahun dan masih sendiri. Ada yang masih santai tapi juga ada yang siang malam jadi pikiran. Adakah dirimu termasuk dalam golongan salah satu dari mereka? Kalau aku saat ini...ya. Namun lebih tepatnya bukan “masih sendiri” tapi “kembali sendiri”. Beberapa tahun yang lalu aku sudah tak dapat mempertahankan sebutan “tidak sendiri” lebih lama lagi, dan jadilah aku sekarang “kembali sendiri” padahal hanya dalam hitungan hari lagi, akan merayakan kembali kelahiranku ke dunia ini, insyaallah amin.

Source Image : deasukata.blogspot.com

Dalam perkembangan kedewasaan, memang yang paling menyakitkan adalah perempuan selalu lebih dewasa daripada laki-laki seumurannya. Ketika perempuan sudah memikirkan rencana menikah, laki-laki masih ragu dan bimbang. Perempuan untuk beberapa waktu masih bisa bertahan, namun keraguan laki-laki seringkali berkepanjangan, akhirnya pihak keluarga tak bisa mempertahankan. Endingnya..si laki-laki jadi korban perasaan!! Tersingkir dari peradaban!! Dan ... dan... kembali menjelma menjadi jomblowan. Xixixi


Oleh karena itu Jomblowan-Jomblowati rahimakumullah ( إنشاء الله ) amin

Baik buruknya keadaan yang terjadi mengiringi kehidupan sudah pasti telah ditentukan. Oleh Dia yang menciptakan makhluknya dengan berpasang-pasang. Dia telah memperhitungkan segala sesuatu. Dan ketetapannya atas dunia beserta makhuk yang menghuninya ini sudah pasti yang terbaik. Sehingga alangkah bodohnya, jikalau keadaan buruk yang menimpa, sampai membuat kita berkata bahwa Tuhan tidak adil, atau bahkan sampai menghilangkan “kepercayaan” kita kepada-Nya. Dia Maha Tahu jalan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Karena itu seburuk apapun keadaan yang menimpa kita, sebenarnya adalah cara terbaik untuk menuntun kita “kembali” ke jalan yang terbaik pula. Keadaan buruk itu hanyalah persepsi. Dan persepsi ada di tangan kita, apakah akan kita rasakan sebagai pahit atau akan kita rubah menjadi manis. Haha sedikit berkutbah menyadarkan diriku sendiri..yang pastinya jomblowan..


Dan memang, jodoh itu adalah sesuatu yang bukan dari kuasaku, aku hanya mampu berusaha. Jikalau dapat memilih tentu aku sudah tak mau lagi berlama-lama menyandang gelar jejaka ini. Dan menyempurnakan separuh agama, seperti mereka yang sudah mendahuluiku melakukan salah satu sunnah Rasulullah ini.


Namun, berbicara sunnah Rasul saw, diriku jadi teringat akan beberapa mutiara hikmah yang disampaikan beberapa kyai dan ustadz yang berkenaan dengan keputusan “aneh” seseorang perihal jodohnya. Baru-baru ini aku mendengarnya, jadi umpama kue masih hangat-hangatnya, dan umpama gadis masih kencur-kencurnya (melenceng dikit xixixi). Langsung aja ke TKP.



TKP : Tidak Menikah Why (Not) ? bagian Final






Wednesday, April 17, 2013

Nikah, Semudah Memikirkannya

Para jomblowan jomblowati rohimakumullah (insyaallah) ketahuilah:
Ngebet KAWIN adalah hak setiap santri, tak ada yang boleh melarangnya. Namun yang sering menjadi problem adalah santri itu seorang pengangguran/ kismin.

Maka ia pun tak tinggal diam dan mencari solusi hingga mendapatkan jawaban yang dapat menghibur hatinya, “Menikahlah... maka kau akan kaya. Menikah adalah salah satu pintu rizki”, ucap Kyainya.

Dengan tekad dan keyakinan kuat pergilah ia untuk melamar. Namun jawab camer, “Kamu kira KAWIN itu JALAN KELUAR? Justru KAWIN itu JALAN MASUK!” bentaknya.

# maksudnya?



Baca juga :
Tidak Menikah Why (Not)

Tidak Menikah Why (Not) II

Jomblowan Jomblowati yang dimuliakan Allah..
Ada kitab berjudul al-Ulama al-'Uzzab alladzina Atsar al-'ilm ala al-Zawaj, karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Kitab ini berisi sekilas riwayat para ulama yang hidup selibat alias membujang atau menJOMBLO hingga akhir hayat, karena sangat sibuk dalam jagat keilmuan.

mulai dari --

  • Bisyr Alhafi 
  • Ibn Jarir Atthabari 
  • Imam an-Nawawi
  • Zamakhsyari al-Khwarizmi
  • Ibn Taymiyyah Al-Harrani 
  • Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah al-Makkiyyah

--- sampai yang tidak bisa disebutkan satu persatu
---
Hanya saja, saya garuk garuk kepala sambil tersenyum kecut saat membaca halaman 14:
[[حتي قال الامام بشر الحافي الكلمة المشهور في هذا المعني [[ضاع العلم في افخاذ النساء

[[وتروى هذه الكلمة بلفظ [[ذبح العلم بين افخاذ النساء

Hehehe
Jomblowan Jomblowati yang belum tahu artinya, boleh tanya ama eyang subur.. :D
wekekek salah...Eyang google maksute inyong..

Baca juga:
Tidak Menikah Why (Not) part 1
Tidak Menikah Why (Not) part 3
Tidak Menikah Why (Not) part final

Maafkan Aku, Ayah

Oleh: (Anonim)
Para suami ataupun calon suami HARUS BACA!!


Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.

Begitulah yang kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Oh, aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.

Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.
Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya. Karena aku takut mie-nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku, aku minta maaf,ayah…“
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, kupeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, aku benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang ke rumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, ayah“.
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara
“pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa di sekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, Aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf:
“Maaf, ayah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada di kepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yang sama?”

“Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung,
tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan.

“Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada bunda.”
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak.

Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya. Jadi kubawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. aku jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hatiku hancur:

“Ibu sayang, aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi bunda tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat bunda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul?”

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku.
----
Note : Untuk para suami dan laki-laki, yang telah dianugerahi seorang istri/ pasangan yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari pada istrimu. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yang bisa menggantikannya.

(cerpen tanpa nama pengarang ini dimuat di beberapa fanspage, group FB, maupun blog)

Baca juga:
Cerpen: Surgo Nunut Neroko Katut (untuk perempuan)

Facebook Comment