Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Tuesday, March 10, 2015

Berharap Mati di Bawah Laut Bersamamu

“Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan dan akan tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke sekoci untuk menyelamatkan diri. Sesampai di sekoci, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap suaminya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum sekoci menjauh dan kapal yang dia tumpangi benar-benar menenggelamkannya.”

Guru yang menceritakan kisah itu bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian murid menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu egois!” “Enggak tahu malu!”

Tetapi guru itu menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru kemudian meminta murid yang diam itu menjawab.
“Guru, saya yakin istri itu pasti berteriak: Tolong jaga anak kita baik-baik,” kata murid itu.

Guru terkejut. “Apa kamu sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya?” tanya guru.

Murid itu menggeleng. “Belum. Tetapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar. Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak-anak mereka sendirian.”

“Bertahun-tahun kemudian, setelah sang suami meninggal, anak-anak menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.

Dalam buku harian itu tertulis: Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak-anak kita, aku harus membiarkanmu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Demikianlah. Pelajaran moralnya adalah kebaikan dan kejahatan itu tidak sesederhana yang kita kira. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti. Karena itulah kita jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya






M. Husnaini

Sunday, February 1, 2015

Tak Harus Cantik, Tapi Baik

Seorang pemuda berkeinginan untuk menikah. Seperti pemuda-pemuda lainnya ia mendambakan istri yang cantik jelita. Gambarannya tentang calon istri amat sempurna. Hidung mancung, kulit putih bersih, tubuh semampai, dan pandangan mata yang teduh. Cantik dan ayu.

Belum sempat dia menemukan calon istri idamannya, keluarganya telah menjodohkannya. Mereka mengatakan bahwa calon istrinya ini sangat ideal. Dia cantik dan amat serasi dengannya. Sungguh merugi jika tidak diterima.

Dia memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihan keluarganya itu. Yakin atas pilihan mereka bahkan ia merasa tak perlu nadzar (melihat calon pasangan) terlebih dahulu. Toh sejumlah “santri” juga menikah seperti itu.
image source : https://inadwiana.wordpress.com/2012/02/05/istri-sholehah/

Tapi kenyataan rupanya tak seperti yang dia dambakan. Istrinya tak cantik seperti impiannya. Rona kebahagiaan yang semula mengembang tiba-tiba menghilang diganti dengan garis kesedihan.
“Barangkali dalam keburukan tersimpan kebaikan!” kata istrinya menghibur.

Pemuda itu mencoba bertahan dan menerima. Satu hari .. dua hari .. tiga hari .. ia masih bisa bertahan. Akan tetapi di hari ke empat ia tak lagi mampu menjalaninya. Dia pergi meninggalkan sang istri!

Setelah sekian lama di rantau ia pun pulang kampung. Banyak kenangan di sana yang membuatnya merindu. Ia memasuki masjid di desanya. Seorang pemuda tengah memberi pengajian dengan sangat menarik. Jamaah yang memenuhi masjid mendengarkan dengan khidmat. Pemuda itu tampaknya merupakan sosok idola.

“Siapakah pemuda itu?” tanya dia kepada seseorang yang berada di sampingnya.

“Dia adalah fulan bin fulan. Fulan ayahnya lama pergi dan hingga sekarang belum kembali,” jawab orang itu.

Mendengar jawaban demikian hatinya bergetar. Maka usai pengajian dia menghampiri sang pemuda idola. Ia menjabat tangannya dengan sangat hangat dan dengan mata yang mengembun.

“Anak muda, bolehkan saya ikut mengantarkan dirimu pulang?” pintanya dengan hati-hati.

“Mari silahkan, Bapak ..” jawab pemuda itu sambail berdiri.

Anak muda dan bapak itu berjalan menuju rumah si pemuda. Sampai di depan pintu, bapak itu berkata:

“Saya menghantarkan sampai di sini saja. Sampaikan kepada ibumu: barangkali dalam keburukan tersimpan kebaikan!”

Pemuda itu masuk ke rumah menemui ibunya, lalu menyampaikan pesan sang bapak di luar. Mendengar itu ibunya berkaca-kaca, dan katanya seketika:

“Jemput Bapak itu! Dia adalah ayahmu!”

Ibu itu sungguh luar biasa. Ketika ditinggal suaminya ternyata dia dalam keadaan hamil. Biar pun begitu, dia selalu bercerita yang baik-baik tentang suaminya kepada anaknya. Ia tak ingin anaknya memiliki persepsi buruk tentang ayahnya. Biarlah yang pahit dia simpan dalam hati, dan yang baik-baik ia bagikan kepada anaknya. Ibu itu hanya memikirkan yang terbaik buat putranya.








oleh Abdul Ghofur Maimoen

Sunday, January 25, 2015

Indahnya Saat Cinta Telah Bersatu

Cinta adalah salah satu mahluk yang murni dan sakral. Murni karena ia adalah Hawa, yang terlahir langsung dari buah ‘kesepian ‘ Adam di dalam Surga tatkala kalbunya merindukan ‘belahan jiwa’ yang bisa ikut merasakan apa yang dia rasa. Memiliki apa yang dia miliki. Bukan lah sekelompok malaikat-malaikat yang sama sekali tidak memberinya ‘ rasa’ itu.

Begitu engkau seorang Adam maka jiwa murnimu akan membutuhkan Hawa.

Cinta itu sakral karena Allah mengaturnya dengan batasan-batasannya yang semakin membuat haru biru keasyikannya. Bukan seperti hewan yang terhadap siapapun cintanya tersalurkan, menjadi tidak lebih dari bahasa biologis mereka saja.

Tetapi bagi manusia, kesakralan cinta itu dimulai saat para Malaikat menghalangi Adam saat tangannya hendak menyentuh kulit halus Hawa di sampingnya:

“Mah, ya Adam. Hatta Tuaddiya laha Mahra… “

“Jangan dahulu Adam. Sampai engkau memberikan kepada dia, maharnya.” Kata Malaikat.
Adam betul-betul mencintai Hawa. Sesosok tubuh serupa dengannya tetapi sangat membuatnya takjub akan warna, bentuk serta gerak-geriknya.

image source: http://dawaihatiku.blogspot.com/2013/02/senandung-rindu-di-kidung-doa.html

Malaikat bertanya : “Apakah engkau menyukai Hawa, Wahai Adam?“

Adam alaihis salam menjawab cepat “Tentu … Aku suka kepadanya.”

Hawa, sebagaimana para wanita cucu-cucu keturunannya kelak, adalah mahluk lembut yang lebih dominan rasa malunya, rasa sungkannya menutupi kejujuran hatinya.

Malaikat bertanya kepada Hawa “ Wahai Perempuan rupawan. Apakah dikau menyukai Adam, lelaki yang duduk di samping dirimu itu?”

Dengan dasa penuh sesak, mata berkedip dan tak mampu menatap langsung Adam, Bunda Hawa menjawab ....

bersambung









Perempuan yang Memegang Lentera

sebelumnya

Dengan dasa penuh sesak, mata berkedip dan tak mampu menatap langsung Adam, Bunda Hawa menjawab “ Tidak… Aku sama sekali tidak menyukainya.”

Padahal didalam hati Hawa, rasa cintanya kepada Adam itu jutaan kali lipat dengan rasa cinta Adam kepada dirinya.

Dan ini kemudian menjadi sunnatullah di kemudian hari. Akan adanya kenyataan bahwa kaum Hawa itu diciptakan untuk banyak menyimpan misteri – misteri. Ia berkata tidak, padahal sesungguhnya Ya. Iapun berkata Ya , padahal sesungguhnya Tidak.

Sebuah misteri yang menjadikan sosok Wanita yang jujur, ikhlas, berdedikasi adalah barang yang sangat istemewa di muka bumi. Betapa bahagianya seorang Adam jika dia mampu memiliki seorang Hawa seperti ini.

Kata baginda Rasulullah SAW : “ Sebaik-baik perhiasan dunia adalah Wanita Shalihah.”
image source: http://loveis-cinta.tumblr.com/page/2

Syahdan, seorang ulama menikah dengan wanita shalihah pilihannya. Maka setiap kali malam datang, wanita itu berhias dengan secantik-cantiknya. Lalu dia mendekati suaminya dan bertanya menggoda,
“Suamiku … Apakah kamu membutuhkan aku malam ini?“

Jika Suaminya menginginkannya, maka terjadilah. Jika tidak, wanita itu kemudian melepaskan seluruh pakaian dan perhiasan indahnya. Dan menghabiskan malamnya dengan beribadah, bertahajjud dan bermunajat kepada tuhannya. Begitu terus setiap malamnya.

Seorang Sayyid Ba ‘Alawi menikah dengan seorang Syarifah. Pada malam pertamanya itu, sesudah mengenakan pakaian dan berhias, dia mendekati suaminya. Sebenarnya, Sayyid itu sudah ingin melepaskan malam pertamanya itu saat itu juga. Tetapi mata Sayyid itu tertambat pada satu naskah kitab di atas meja. Dia pun berkata kepada Istrinya,

“Dinda… Mataku melihat Kitab as Syifa lil Qodhi ‘Iyadh ini. Alangkah pinginnya aku membacanya sebentar, barang satu dua halaman. Tolong dekatkan lentera itu kesampingku dan biar aku lebih mudah membacanya.”

Istrinya meraih lentera dan mendekatkannya, kemudian suaminya mulai membuka kitab itu halaman demi halaman. Saking asyiknya membaca, Sayyid itu sampai tidak sadar dia telah membaca nyaris seluruh lembar halaman kitabnya. Dan begitu tersadar, fajar pagi ternyata telah datang.

Diapun terkaget terbuatnya. Namun lebih kaget lagi dia melihat istrinya masih berdiri di sampingnya dengan tangannya memegangi lenteranya. Rupanya semalaman wanita itu telah melakukannya tanpa berkata satu patah kata apapun, kecuali satu senyuman indah yang tersungging disaat kemudiannya suaminya dengan hangat memeluknya.


bersambung







Tetap Perjaka dan Perawan Seumur Hidup

sebelumnya

Jauh sebelum kedua pengantin itu, di jaman awal–awal Islam ada dua sejoli yang saling jatuh cinta satu sama lainnya. Kemudian taqdir menggariskan mereka dapat bersua dan menikah di pelaminan. Duhai betapa tiada terkira perasaan bahagia mereka, sejoli yang selama ini dimabuk asmara kini tiba saatnya cinta-cinta mereka tersatukan. Tibalah kini malam pertama, malam yang selalu di tunggu-tunggu oleh para pecinta.

Begitu mereka duduk berdampingan, Si Suami berkata, “Duhai Istriku, belahan jiwaku, betapa bahagianya aku, kini cinta kita telah bersatu.”

Istrinya menjawab, ”Akupun demikian. Inilah saat–saat yang begitu lama aku nantikan.”
Suaminya berkata, “Betapa besar nikmat Allah kepada kita. Bukankah sebaiknya kita membalas nikmat ini dengan sebaik-baiknya?”

Istrinya menjawab, “Benar suamiku. Sebaiknya kita isi malam ini shalat dan bermunajat kepada Allah sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya.”

Malam pertama itupun mereka habiskan dengan shalat dan berdzikir kepada Allah sebagai ungkapan syukur mereka berdua. Namun, kemudian kejadian itu terulang terus setiap malamnya.
Jika mereka telah samapai di peraduan dan memikirkan kisah cinta mereka itu mereka merasa begitu bersyukur dan mereka segera bangkit untuk bershalat bersama semalaman sebagai bentuk tasyakkur mereka. Begitu terus sepanjang malam, setiap malam, dan tanpa mereka sadari mereka telah melakukannya berpuluh-puluh tahun lamanya.
image source: https://ermaynee.wordpress.com/2010/09/06/karena-cinta-saya-bersyukur/

Konon dikisahkan, mereka akhirnya meninggal di dalam shalat mereka di suatu malam, juga dalam suasana rasa syukur akan persatuan rasa cinta mereka itu dimana sang suami akhirnya tetap menjadi seorang perjaka, dan sang istri tetap menjadi seorang perawan sesudah puluhan tahun mereka telah ada dalam ikatan perkawinannya.


diceritakan oleh: Ust. Muhajir Madad Salim











Sunday, August 11, 2013

Bintang Kecil di Langit

TINGKATAN MANUSIA VERSI ABU NAWAS

Suatu ketika ada tiga orang yang menanyakan kepada Abu Nawas dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaannya adalah: “Manakah yang lebih utama orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?”

Orang pertama yang menanyakan hal itu dijawab oleh Abu Nawas: “Yang lebih utama adalah orang yang mengerjakan dosa kecil.”

“Mengapa?” tanya orang pertama.

“Sebab lebih mudah diampuni oleh Allah”, kata Abu Nawas.

Orang pertama ini puas, karena ia memang yakin akan hal itu.

Orang kedua menanyakan hal yang sama dan dijawab oleh Abu Nawas adalah: “Yang lebih utama adalah orang yang tidak mengerjakan kedua-duanya.”

“Mengapa begitu?” tanya orang kedua.

“Ya dengan begitu tentu tidak memerlukan pengampunan Allah”, kata Abu Nawas.

Orang kedua pun langsung dapat mencerna penjelasan Abu Nawas

Orang ketiga menanyakan hal yang sama dan dijawab oleh Abu Nawas: “Yang lebih utama adalah orang mengerjakan dosa besar.”

“Mengapa?” tanya orang ketiga.

“Sebab pengampunan Allah kepada hambaNya sebanding dengan besarnya dosa hambaNya itu”, jawab Abu Nawas.

Orang ketiga ini pun puas dengan penjelasan Abu Nawas.

Salah seorang murid Abu Nawas yang menyaksikan itu menjadi kebingungan, lantas menanyakannya kepada Abu Nawas: “Mengapa dengan pertanyaan yang sama menghasilkan jawaban berbeda wahai Tuan Guru?”

Jawab Abu Nawas: “Manusia itu dibagi menjadi tiga tingkatan; tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati. Seorang anak kecil melihat bintang di langit akan bilang bahwa bintang itu kecil karena ia hanya menggunakan matanya. Sebaliknya seorang pandai akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia berpengetahuan dan menggunakan otaknya.”
Image Source: nadiamariana.blogspot.com

“Kemudian apa tingkatan hati?” tanya sang murid penasaran.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil walau ia tahu bintang itu besar. Karena ia tahu dan mengerti tidak ada sesuatu apapun yang besar jika dibandingkan dengan Allah Yang Maha Besar”, Pungkas Abu Nawas menjelaskan.


Source: http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2013/08/tingkatan-manusia-versi-abu-nawas.html

Friday, August 9, 2013

Selamat Idul Fitri, Hati

Selamat idul fitri, wahai mata..
maafkanlah aku, selama ini kau hanya ku gunakan,
melihat kilau comberan.

Selamat idul fitri, wahai telinga..
maafkanlah aku, selama ini kau hanya ku sumpali,
rongsokan kata sumpah serapah nista.
Image Source: ibnuyusofaljufrie.blogspot.com

Selamat idul fitri, wahai mulut..
maafkanlah aku, selama ini kau hanya ku jejali,
dan ku buat untuk memuntahkan kotoran, sumpah serapah penuh fitnah.

Selamat idul fitri, wahai tangan..
maafkanlah aku, selama ini kau hanya ku gunakan,
untuk mencakar-cakar kawan, dan berebut remah-remah murahan.

Selamat idul fitri, wahai kaki..
maafkanlah aku, selama ini kau hanya ku ajak,
menendang kanan-kiri dan berjalan di lorong kegelapan.

Selamat idul fitri, wahai akal budi..
maafkanlah aku, selama ini kau kubiarkan terpenjara sendiri.

Selamat idul fitri, wahai diri..
marilah menjadi manusia kembali

Wednesday, May 29, 2013

Nasehat Untuk Putriku

"Nasehat Untuk Putriku"

Wahai putriku, aku masih teringat masa kecilmu, tampak kepolosanmu tanpa dosa. Terlintas dibenakku sebuah makna tanggung jawab. Dirimu pun akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Dan tanpa terasa engkau telah di ambang kedewasaan. Tergugah kesadaranku bahwa tiba-tiba dirimu dalam suasana yang amat mengkhawatirkan. Engkau berada pada zaman kejayaan iblis dan bagundal-bagundalnya dari bangsa manusia yang setiap saat siap hancurkanmu dengan segala yang dimilikinya. Zaman dengan budayanya dan zaman dengan pelaku-pelakunya.
Source Image

Maafkan aku dan mohonkan aku ampun kepada Allah jika ternyata aku pun kurang serius memperhatikanmu. Aku telah lalai membekalimu hal-hal yang amat kau butuhkan kelak di akhirat. Aku jarang memperkenalkanmu kepada Allah dan Rasulullah SAW. Sekolah yang aku pilihkan untukmu hanya sekolah yang menghantarmu berbangga dengan dunia tanpa aku imbangi dengan pendidikan agama, yang sebenarnya lebih engkau butuhkan. Bahkan, Aku sering sodorkan padamu hal-hal yang membahayakanmu. Aku telah memasukkan pesan dan bisikan musuh-musuhmu ke rumahmu. Aku telah hadirkan dalam kehidupanmu potret moral yang busuk melalui layar televisi yang kau nikmati setiap saat. Aku pun telah membekalimu dengan handphone kontrol iblis yang senantiasa menyertaimu yang sebenarnya justru menyulitkanku untuk mengawasimu. Bahkan aku pun sering tidak peduli dengan perkembangan akhlakmu setiap saat. Aku hanya memikirkan kebutuhan lahirmu, makan, minum, baju dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan hati dan jiwamu yang menghantarmu ke dalam kebahagiaan dalam keabadian di akhirat tidak pernah aku pikirkan. Bahkan kadang baju yang kubelikan pun baju yang mengundang nafsu pengikut iblis. Aku sering menjadi orang dungu yang hanya bisa bengong melihat dirimu berdandan untuk membangkitkan hawa nafsu budak iblis. Kecemburuanku kadang hilang dan menjadikan diriku kurang berarti bagimu.

Wahai putriku bantulah aku untuk mengembalikan kemuliaan pada dirimu. Maafkan aku jika saat ini aku berbeda dengan hari yang lalu. Kemarin aku lemah dan dungu yang amat membahayakanmu. Dan hari ini aku telah menyadari bahwa aku harus meninggalkan kedunguan dan kelemahanku demi kemulyaan dan kejayaanmu kelak diakhirat.

Aku tidak ingin disebut tolol dan dungu dengan pendidikanmu yang tidak membawa keselamatanmu di akhirat. Aku tidak mau di bilang bodoh melihat pakainnmu yang separoh hati kau kenakan, sebagian badanmu tertutup dan sebagian lagi terbuka. Aku tidak ingin kau dihinakan oleh mata jalang hamba hawa nafsu. Maka perhatiakan bahwa dirimu harus kau mulyakan. Berdandanlah dengan dandanan yang berwibawa dihadapan perampok-peramopok kehormatan. Jadikanlah mereka takut mendekatimu dan jera jika mereka berusaha menjailimu. Jangan kau rendahkan dirimu dengan kau umbar tubuhmu disana sini. Sebab jika dirimu tidak bisa menghargai dirimu sendiri maka orang lainpun tidak menghargaimu.

Kemulyaanmu wahai putriku pada kepribadianmu. Jika engkau berwibawa dan mulya maka lelaki jalang hamba hawa nafsupun akan enggan mendekatimu. Senyummu amat mahal jangan kau berikan kepada semua orang sebab tidak semua orang tahu nilai senyummu. Suaramu pun adalah nilai dirimu. Jangan bersuara yang mengundang nafsu di hadapan bagundal iblis sehingga mereka meremehkanmu. Telah banyak gadis-gadis seumurmu telah direndahkan oleh mereka. Lihatlah di sekitarmu, anak gadis sebaya denganmu telah tenggelam dalam kenistaan. Harga dirinya telah digadaikan dengan karir dan ketenaran..

Putriku, Sungguh itulah bahasa cinta dan kasihku yang engkau butuhkan saat ini. Aku sadar bahwa engkau saat ini sudah tidak butuh orang tua yang hanya bisa memanjamu. Akan tetapi saat ini engkau butuh orang tua yang mendidikmu dan menuntunmu kepada kemulyaan.
Jangan heran jika aku kadang cerewet wahai putriku dan songsonglah masa depanmu dengan kemulyaan.

Wallahu a'lam bishshowab





Oleh : Abuya Yahya, Majelis al Bahjah Cirebon

Friday, April 19, 2013

Tidak Menikah Why (Not) Final

Berkaitan dengan “dianjurkannya” seseorang agar tetap melajang/ jomblo sampai batas waktu tertentu. Atau bahkan menahan diri untuk tidak menikah sampai akhir hayat. Uraian tersebut pernah disinggung oleh beliau KH. Imam Makruf saat Haul Ponpes Hidayatul Mubtadi’in, disiarkan secara live (dan bisa di streaming online) di stasiun TV ahlussunnah wal jamaah yakni TV9 dan jaringan radio Madu FM serta direkam secara live juga oleh penulis (xixixi ^_^ ) yang pas bisa hadir (MP3 dapat download di sini) :

Bahwa hanya ada DUA pilihan, bagi para jomblowan dan jomblowati akhir zaman:


1. JANGAN KAWIN
Terlepas dari kesunnahan menikah. Dibolehkan (bahkan hampir naik tingkat menjadi “dianjurkan”) bagi umat Islam akhir zaman untuk tidak menikah.Sebentar lagi -mungkin sekitar beberapa abad ke depan- bahkan akan menjadi “diwajibkan” agar tidak menikah. Alasan dan latar belakangnya nanti dulu.
Khusus bagi kaum sawah/ salafy wahaby stop membaca sampai sini dulu, Para militan sawah yang selalu salah faham dan menuduh ini dan itu. Tidak usah diteruskan membacanya, nanti malah menjadi maksiat buat antum semua. Karena berkicau: INI GAK SESUAI SUNNAH!! BID’AH, SYIRIK!! xixixi


2. Bila pilihan pertama dilarang menikah, ternyata merasa keberatan. Akhirnya terpaksa memilih menikah, karena sudah berusaha ikhtiar dan sudah menemukan calon yang terbaik dan alasan lain yang tak tersebut satu persatu. Maka pilihan kedua bila sudah menikah: JANGAN PUNYA ANAK!! 

Sebagaimana ada dari beberapa ulama besar (klik di sini untuk mengenal beberapa di antaranya) yang tetap melajang karena lebih mencintai ilmu, keputusan tidak menikah di akhir zaman, lebih karena alasan “menjaga diri sendiri dan keluarga dari siksa api neraka”. Karena menutup satu lubang kesalahan lebih baik dari pada membuka satu lubang kebaikan. Mendahulukan untuk menjauhi, jalan kepada kemaksiatan itu nilainya lebih baik.
Source Image : www.klikrama.com


Dan di dalam taushiyah lain yang bertema tentang cara mendidik anak, oleh Abuya Yahya Z.M. (MP3 dapat dowload di sini) yang kalau tidak salah, juga pas dihadiri oleh beliau Habib Husain Ba’abud, Habib Helmy al Atthos dan Habib Muhammad bin Salim as Seggaf, semuga penulis tidak salah (memahami) inti pokoknya, berikut:


1. Menikah dan berkeluarga itu adalah ladang ibadah, karena menyempurnakan separuh agama. Namun juga, (bila tidak dipertimbangkan matang tentang kapasitas diri sendiri dan calon pendampingnya) bisa jadi malah akan menjadi ladang menuai dosa.

2. Agar tidak terjerumus ke dalam dosa, maka tuntutlah ilmu agama sebanyak-banyaknya sebelum menikah. (Baca selengkapnya disini)

3. Menikah yang awalnya untuk beribadah, ketika sudah punya anak dan belum tahu cara mendidiknya yang benar. Bisa saja niat berbelok dari jalur awal. Sebagaimana orang tua akan memperoleh kebaikan sebab anak yang sholeh, orang tua juga akan bertanggung jawab kelak atas perilaku tidak baik yang dilakukan oleh anak.

4. Meskipun orang tua ahli ibadah, namun bila anaknya tidak terdidik. Bisa jadi kelak anaknya yang akan menyeret kedua orangtuanya ke dalam siksa neraka. (dari kisah: seorang anak yang protes kepada Tuhan karena tidak rela melihat orang tuanya dimasukkan ke dalam surga, sementara ia yang sebagai anak kandungnya malah dimasukkan ke dalam neraka)

5. Umur insan siapalah yang tahu selain Allah. Sehingga saat kita telah tiada dan meninggalkan anak keturunan. Kepada siapa anak kita akan terasuh dan terdidik. Apakah kepada calon pendamping kita, yang belum tahu cara mendidiknya. Ingatlah hidup kita setelah mati, tetap mempertanggungjawabkan benih yang kita tanam, yaitu anak. Maka beruntung sekali jika setelah kita tiada, anak kita diasuh oleh seorang ayah atau ibu yang mengerti agama. Umur insan siapa yang tahu. Karena, kita tidak bisa memastikan apakah umur kita kelak bisa sampai mendampingi anak tumbuh dewasa.

6. Kesalahan mendidik anak juga tidak lepas dari sebab yang pertama. Yaitu ketika orang tua memilih pasangannya. Sudahkah kita memastikan calon pendamping kita itu menyejukkan hati, tidak hanya di dunia tetapi juga sampai kehidupan nanti.

7. Namun, mari sama-sama berbenah diri. Sudahkah diri kita ini pantas untuk mendapatkan calon pendamping yang baik. Sebagaimana firman-Nya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula. Yang nantinya akan menurunkan keturunan yang baik pula insyaallah.

8. Ushikum wa nafsiy bi taqwallah


Demikianlah dua taushiyah yang ditafsirkan oleh penulis sendiri. Dan untuk mendapatkan penafsiran yang lebih baik dan lebih lurus. Makanya segera didownload MP3-nya


Akhirnya setelah membaca dari awal sampai akhir:
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian I
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian II
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian III
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian Final


Apakah kesimpulan finalnya..
a. Tetap menjadi jomblowan / jomblowati
b. Semakin yakin untuk menuju jenjang pernikahan
c. Atau masih galau


Pilihlah C maka tulisan-tulisan ini akan tetap berlanjut. Xixixi (^_^)
Semoga bermanfaat.


Salam Menyan
(menyejukkan dan nyaman)




Tidak Menikah Why (Not) III

Menjelang usia 24 tahun dan masih sendiri. Ada yang masih santai tapi juga ada yang siang malam jadi pikiran. Adakah dirimu termasuk dalam golongan salah satu dari mereka? Kalau aku saat ini...ya. Namun lebih tepatnya bukan “masih sendiri” tapi “kembali sendiri”. Beberapa tahun yang lalu aku sudah tak dapat mempertahankan sebutan “tidak sendiri” lebih lama lagi, dan jadilah aku sekarang “kembali sendiri” padahal hanya dalam hitungan hari lagi, akan merayakan kembali kelahiranku ke dunia ini, insyaallah amin.

Source Image : deasukata.blogspot.com

Dalam perkembangan kedewasaan, memang yang paling menyakitkan adalah perempuan selalu lebih dewasa daripada laki-laki seumurannya. Ketika perempuan sudah memikirkan rencana menikah, laki-laki masih ragu dan bimbang. Perempuan untuk beberapa waktu masih bisa bertahan, namun keraguan laki-laki seringkali berkepanjangan, akhirnya pihak keluarga tak bisa mempertahankan. Endingnya..si laki-laki jadi korban perasaan!! Tersingkir dari peradaban!! Dan ... dan... kembali menjelma menjadi jomblowan. Xixixi


Oleh karena itu Jomblowan-Jomblowati rahimakumullah ( إنشاء الله ) amin

Baik buruknya keadaan yang terjadi mengiringi kehidupan sudah pasti telah ditentukan. Oleh Dia yang menciptakan makhluknya dengan berpasang-pasang. Dia telah memperhitungkan segala sesuatu. Dan ketetapannya atas dunia beserta makhuk yang menghuninya ini sudah pasti yang terbaik. Sehingga alangkah bodohnya, jikalau keadaan buruk yang menimpa, sampai membuat kita berkata bahwa Tuhan tidak adil, atau bahkan sampai menghilangkan “kepercayaan” kita kepada-Nya. Dia Maha Tahu jalan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Karena itu seburuk apapun keadaan yang menimpa kita, sebenarnya adalah cara terbaik untuk menuntun kita “kembali” ke jalan yang terbaik pula. Keadaan buruk itu hanyalah persepsi. Dan persepsi ada di tangan kita, apakah akan kita rasakan sebagai pahit atau akan kita rubah menjadi manis. Haha sedikit berkutbah menyadarkan diriku sendiri..yang pastinya jomblowan..


Dan memang, jodoh itu adalah sesuatu yang bukan dari kuasaku, aku hanya mampu berusaha. Jikalau dapat memilih tentu aku sudah tak mau lagi berlama-lama menyandang gelar jejaka ini. Dan menyempurnakan separuh agama, seperti mereka yang sudah mendahuluiku melakukan salah satu sunnah Rasulullah ini.


Namun, berbicara sunnah Rasul saw, diriku jadi teringat akan beberapa mutiara hikmah yang disampaikan beberapa kyai dan ustadz yang berkenaan dengan keputusan “aneh” seseorang perihal jodohnya. Baru-baru ini aku mendengarnya, jadi umpama kue masih hangat-hangatnya, dan umpama gadis masih kencur-kencurnya (melenceng dikit xixixi). Langsung aja ke TKP.



TKP : Tidak Menikah Why (Not) ? bagian Final






Wednesday, April 17, 2013

Tidak Menikah Why (Not) II

Jomblowan Jomblowati yang dimuliakan Allah..
Ada kitab berjudul al-Ulama al-'Uzzab alladzina Atsar al-'ilm ala al-Zawaj, karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Kitab ini berisi sekilas riwayat para ulama yang hidup selibat alias membujang atau menJOMBLO hingga akhir hayat, karena sangat sibuk dalam jagat keilmuan.

mulai dari --

  • Bisyr Alhafi 
  • Ibn Jarir Atthabari 
  • Imam an-Nawawi
  • Zamakhsyari al-Khwarizmi
  • Ibn Taymiyyah Al-Harrani 
  • Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah al-Makkiyyah

--- sampai yang tidak bisa disebutkan satu persatu
---
Hanya saja, saya garuk garuk kepala sambil tersenyum kecut saat membaca halaman 14:
[[حتي قال الامام بشر الحافي الكلمة المشهور في هذا المعني [[ضاع العلم في افخاذ النساء

[[وتروى هذه الكلمة بلفظ [[ذبح العلم بين افخاذ النساء

Hehehe
Jomblowan Jomblowati yang belum tahu artinya, boleh tanya ama eyang subur.. :D
wekekek salah...Eyang google maksute inyong..

Baca juga:
Tidak Menikah Why (Not) part 1
Tidak Menikah Why (Not) part 3
Tidak Menikah Why (Not) part final

Maafkan Aku, Ayah

Oleh: (Anonim)
Para suami ataupun calon suami HARUS BACA!!


Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.

Begitulah yang kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Oh, aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.

Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.
Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya. Karena aku takut mie-nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku, aku minta maaf,ayah…“
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, kupeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, aku benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang ke rumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, ayah“.
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara
“pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa di sekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, Aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf:
“Maaf, ayah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada di kepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yang sama?”

“Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung,
tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan.

“Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada bunda.”
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak.

Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya. Jadi kubawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. aku jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hatiku hancur:

“Ibu sayang, aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi bunda tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat bunda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul?”

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku.
----
Note : Untuk para suami dan laki-laki, yang telah dianugerahi seorang istri/ pasangan yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari pada istrimu. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yang bisa menggantikannya.

(cerpen tanpa nama pengarang ini dimuat di beberapa fanspage, group FB, maupun blog)

Baca juga:
Cerpen: Surgo Nunut Neroko Katut (untuk perempuan)

Tuesday, April 16, 2013

Jangan Terburu Menikah

Washiat al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man Kepada Para Pemuda

ﻭﻻ ﺗﺘﻮﺯﻭﺝ ﺍﻻ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺗﻌﻠﻢ ﺃﻧﻚ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﺎ ﻭﺍﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻭﻻ ﺛﻢ ﺍﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﺛﻢ ﺗﺰﻭﺝ, ﻓﺎﻧﻚ ﺍﻥ ﻃﻠﺒﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻦ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺩﻋﺎﻙ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺍﻟﻰ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﺠﻮﺍﺭﻱ ﻭﺍﻟﻐﻠﻤﺎﻥ ﻭﺗﺸﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ, ﻓﻴﻀﻴﻊ ﻭﻗﺘﻚ ﻭﻳﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻳﻜﺜﺮ ﻋﻴﺎﻟﻚ ﻓﺘﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﻤﺼﺎﻟﺤﻬﻢ ﻭﺗﺘﺮﻙ ﺍﻟﻌﻠﻢ .
Source Image: rharasalju.blogspot.com

Janganlah engkau (terburu-terburu) menikah kecuali setelah engkau tahu bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan istrimu. Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.

Jika engkau mencari harta benda di tengah-tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang-orang sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.

(Jika itu yang terjadi) maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.

ﻭﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻋﻨﻔﻮﺍﻥ ﺷﺒﺎﺑﻚ
ﻭﻭﻗﺖ ﻓﺮﺍﻍ ﻗﻠﺒﻚ ﻭﺧﺎﻃﺮﻙ ﺛﻢ ﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻤﺎﻝ ﻟﻴﺠﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻙ, ﻓﺎﻥ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻮﻟﺪ
ﻭﺍﻟﻌﻴﺎﻝ ﻳﺸﻮﺵ ﺍﻟﺒﺎﻝ, ﻓﺎﺫﺍ ﺟﻤﻌﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﺘﺰﻭﺝ.

Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda,karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran. Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.

*Di nukil dari kitab al-Asybah waan-Nadzoir li Ibni Najm
piss-ktb.com/2013/02/2228-mencari-ilmu-dahulu-lalu-baru.html

Baca juga :
Mencari Jodoh - Pasrah Kepada Allah
Dimana Jodohku
Tidah Menikah Why (Not)

Wednesday, April 3, 2013

Tak Perlulah Aku Galau

Seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Ia bertanya, “Apa rahasia sifat zuhudmu terhadap dunia wahai sang imam?”

Beliau menjawab, “Ada empat hal :

  • Aku tahu bahwa rezekiku tidak akan diraih oleh orang lain. Maka aku menyibukkan diriku sendiri untuk rezekiku.
  • Aku tahu bahwa amal perbuatanku tidak akan dilakukan oleh orang lain. Maka aku menyibukkan diriku sendiri untuk melakukannya.
  • Aku tahu bahwa Allah Ta’ala selalu melihatku. Maka aku malu bila Allah Ta’ala melihatku sedang berbuat maksiat.
  • Aku tahu bahwa kematian menantiku. Maka aku mempersiapkan bekal untuk menghadap Rabbku.”




Semoga bermanfaat

Wednesday, March 6, 2013

Orang Pintar dan Orang Bodoh

Source Image : Duniagambar.com

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis
Agar bisnis berhasil, ia merekrut orang pintar
Walhasil, boss orang pintar adalah orang bodoh

Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka rekrut orang pintar untuk memperbaiki yang salah
Walhasil, orang bodoh memerintah orang pintar untuk keperluannya.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah dan mencari kerja.
Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayar orang pintar

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar.
Walhasil orang pintar menjadi staf orang bodoh

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang pintar yang bekerja
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pintar akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan pekerjaan

Bill Gates, Dell, Henry Ford, Liem Swie Liong tidak pernah dapat S1, tapi menjadi kaya. Ribuan orang pintar bekerja untuk mereka dan ribuan jiwa keluarga bergantung pada mereka.

PERTANYAAN :
- Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh ?
- Pinteran mana, orang pinter atau orang bodoh ?
- Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh ?

KESIMPULAN :
Jangan lama2 jadi orang pinter
Jadilah orang bodoh yg pinter, daripada jadi orang pinter yg bodoh

Kata kuncinya adalah 'resiko' dan 'berusaha'.
Karena orang bodoh berpikir pendek, maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.

Orang pinter berpikir panjang, maka dia bilang resikonya besar, selanjutnya dia tidak berusaha mengambil resiko tersebut, dan mengabdi pada orang bodoh.

Di manakah posisi kita saat ini ?

Berhentilah meratapi keadaan kita yang sekarang.
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan.

Semua Pilihan dan Keputusan ada di tangan kita untuk merubahnya.

Go success..Go Freedom !

Sunday, January 13, 2013

Mutiara Terserak dari Kehidupan Para Salaf

MENGAPA DISKUSI PARA SALAF SELALU DILIMPAHI BERKAH, SEDANGKAN DISKUSI KITA MALAH MERENGGANGKAN UKHUWWAH ?
 Amirul Mukminin Umar bin Khattab -radhiyallohu 'anhu- setiap berbeda pendapat dengan seseorang, beliau selalu berkata :

ما حاججت أحداً إلا وتمنيت أن يكون الحق على لسانه
"Tidaklah aku menyampaikan hujjahku kepada seseorang kecuali aku berharap agar kebenaran (al haq) ada pada lisannya (hujjahnya)"
Beginilah tawadhu' nya seseorang yang Rasulullah berkata tentangnya:
"Sesungguhnya Allah telah meletakkan kebenaran (al Haq) pada lisan Umar dan hatinya" (HR. Ahmad dan Imam Hakim dalam Al Mustadrak dan beliau menyatakan hadits ini shahih atas persyaratan Bukhari dan Muslim)
Setiap kali Imam Syafi'i berbeda pendapat dengan orang lain, beliau selalu mengatakan :

ما جادلت أحداً إلا تمنّيت أن يظهِر الله الحق على لسانه دوني 
"TIDAKLAH AKU MENDEBAT SESEORANG KECUALI AKU BERHARAP AGAR ALLAH MENUNJUKKAN KEBENARAN (AL HAQ) DI ATAS LISANNYA, BUKAN LISANKU."
DR. Thariq Suwaidan berkata :
لم أر غروراً أشد من غرور المتدين الذي يعتبر نفسه يتكلم بإسم الشرع بينما الامام الشافعي يقول: ما جادلت أحدا إلا وتمنيت أن يكون الحق على لسانه
"Aku tidak pernah melihat kesembronoan melebihi sembrononya seorang yang mengaku memegang teguh Dien nya yang merasa -hanya- dirinya saja yang berpegang teguh dan berbicara atas nama Syari'ah Islam sedangkan Imam Syafi'i berkata :
"TIDAKLAH AKU MENDEBAT SESEORANG KECUALI AKU BERHARAP AGAR ALLAH MENUNJUKKAN KEBENARAN (AL HAQ) DI ATAS LISANNYA, BUKAN LISANKU"


BEGINI LAH PARA SALAF SALING MENGHORMATI KELEBIHAN MEREKA

يروى أن زيد بن ثابت _ كاتب الوحي _ كان يهم بركوب دابته،
فيقف عبد الله بن عباس _رضي الله عنهما _ بين يديه ويمسك له ركابه ، ويأخذ بزمام دابته .
فقال له زيد :دع عنك يا ابن عم رسول الله
.
فقال ابن عباس : هكذا أُمرنا أن نفعل بعلمائنا
.
فقال له زيد : أرني يدك ، فأخرج ابن عباس يده له ، فمال عليها و قبلها
،
وقال : هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا صلى الله عليه وسلم.

Diriwayatkan bahwa Shahabat Zaid bin Tsabit -penulis wahyu Rasulullah- suatu hari hendak menaiki untanya, melihat hal tersebut, shahabat Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib -saudara sepupu Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam- segera bergegas mendekati beliau dan memegangi kekang unta beliau.
Zaid bin Tsabit sangat terkejut seraya berkata :
"Lepaskan tanganmu dan biarkan aku melakukannya sendiri wahai anak paman Nabi"
Spontan Abdullah bin Abbas menjawab :
 "DEMIKIANLAH KAMI DIAJARI NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM UNTUK MENGHORMATI AHLI ILMU (ULAMA) KAMI"
(seperti tak mau kalah) Zaid bin Tsabit pun menjawab :
"Ulurkan tanganmu, perlihatkan padaku"
Abdullah bin Abbas segera menjulurkan tangannya ke arah Zaid bin Tsabit. Seketika Zaid bin Tsabit menarik tangan Abdullah bin Abbas dan menciumnya seraya berkata :
DEMIKIAN KAMI DIAJARI NABI SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASALLAM UNTUK MENGHORMATI AHLUL BAYT (KELUARGA) NABI KAMI" (Shuwar Min Hayat Ash Shohabah jilid 3/11)

BEGINILAH PARA ULAMA' SALING MENGHARGAI

قال الإمام أحمد بن حنبل: كل حديث لا يعرفه يحيى بن معين فليس بحديث , ها هنا رجل خلقه الله لهذا الشأن، يظهر كذب الكذابين
Imam Ahmad Bin Hanbal -rahimahullah- berkata :
"Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Imam Yahya bin Ma'in, maka itu bukan hadits. Beliau lah orang yang Allah ciptakan khusu untuk ilmu ini -ulumul hadits- beliau lah yang akan menyingkap kebohongan para pendusta"
Imam Yahya bin Ma'in telah menulis satu juta hadits dengan tulisan tangan beliau sendiri. Dan setiap satu hadits beliau ulangi sebanyak 50 kali.... !!!!! (Qiymah Az Zaman 'Inda Ahl Ilmi hal 35)
Imam Muhammad Ibnu Siirin, seorang Tabi'in yang masyhur berkata :

إذا بلغك عن أخيك شيء فالتمس له عذرًا ، فإن لم تجد فقل: لعل له عذرًا لا أعرفه
 "Jika sampai kepadamu sebuah berita tentang keburukan saudaramu, maka carilah udzur baginya. Jika kamu tidak mendapatkannya, maka ucapkanlah : "Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak tahu" (Syu'abil Iman lil Bayhaqi juz 6/323)
تأن ولا تعجل بلومك صاحبًا .. ... .. لعل له عذرًا وأنت تلوم

Berhati-hati lah dan jangan engkau tergesa-gesa mencela saudaramu,
Barangkali ia memiliki udzur namun engkau justru mencela udzurnya itu

وعين الرضا عن كل عيب كليلة
ولكن عين السخط تبدي المساويا
ولست بهياب لمـن لا يهابنـي
ولست أرى للمرء ما لا يرى ليا
فإن تدن مني تدن منك مودتـي
وإن تنأ عني تلقني عنـك نائيـاً

Dan pandangan mata yang penuh ridho akan tumpul melihat aib saudaranya
 Akan tetapi pandangan penuh kedengkian selalu memunculkan keburukan
 Aku tidak akan takut kepada orang yang tidak menakut-nakuti aku
 Aku juga tidak akan melihat kepada orang lain dengan cara yang ia tidak melihatku seperti itu
 Maka jika engkau mendekat padaku, rasa cintaku pun akan mendekat kepadamu
 Namun jika engkau menjauh dariku, niscaya akan engkau dapati aku pun menjauh darimu

MENDAHULUKAN ADAB SEBELUM SIKAP KRITIS
 Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata :
 "Rasa hormat saya kepada guru saya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tidak mengurangi kewajiban saya untuk tetap bersikap kritis terhadap fatwa dan pendapat beliau"
 Ilmu memang memilki derajat yang tinggi di hadapan Allah, namun adab adalah buah nyata dari ilmu itu.
 Sikap kritis terhadap pendapat manusia adalah kewajiban setiap orang yang tidak ingin disebut muqollid (taqlid). Namun adab terhadap ilmu dan ahlul ilmi melebihi tingginya kewajiban untuk bersikap kritis tersebut.
 Para salafus shalih mengajarkan kepada kita betapa adab adalah tanda dalamnya ilmu dan tingginya wara' seseorang dan tawadhu' terhadap ilmu dan adab walaupun itu dimiliki olah orang yang usianya jauh lebih muda darinya .

عَنْ غُضَيْفِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّهُ مَرَّ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ نِعْمَ الْفَتَى غُضَيْفٌ. فَلَقِيَهُ أَبُو ذَرٍّ فَقَالَ أَىْ أُخَىَّ اسْتَغْفِرْ لِى. قَالَ أَنْتَ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنْتَ أَحَقُّ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لِى. فَقَالَ إِنِّى سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ نِعْمَ الْفَتَى غُضَيْفٌ. وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ضَرَبَ بِالْحَقِّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ ». قَالَ عَفَّانُ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ يَقُولُ بِهِ

Dari Ghudhoif bin Al Harits Radhiyallohu 'Anhu ia bercerita bahwa suatu hari ia lewat di depan Umar Bin Khattab Radhiyallohu 'Anhu, lalu Umar berkata :
 "Sebaik-baik anak muda adalah Ghudhoif".
 Ghudhoif melanjutkan ceritanya :
 "Setelah peristiwa itu aku berjumpa dengan Abu Dzar, beliau berkata kepadaku : "Wahai saudaraku mintakan ampun kepada Allah untukku".
 Ghudhoif menjawab : "Engkau shahabat Rasul yang terpandang, engkau lah yang lebih pantas berdo'a dan memintakan ampun kpd Allah buatku".
 Abu Dzar menjawab : "Sungguh aku mendengar Umar berkata : "Sebaik-baik anak muda adalah Ghudhoif", sedangkan Rasulullah Shollallohu 'alaihi Wasallam : "Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan dan hati Umar"
 (HR. Ahmad dan Imam Hakim dalam Al Mustadrak dan beliau menyatakan hadits ini shahih atas persyaratan Bukhari dan Muslim, Muhtashor Tarikh Dimasyq juz 6 hal 247)

ADAB LEBIH DICINTAI PARA SALAF DIBANDING ILMU
 Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

إنما بعثت لأتمم مكارم لأخلاق
"Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia"
Oleh karena itulah para Ulama Salaf lebih mendahulukan adab disbanding ilmu dan mereka amat sangat menjaga adab Islami dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan mereka. Berikut beberapa nasehat mereka:
 Imam Ibnul Mubarak berkata :

تعلمت الأدب ثلاثين سنة، وتعلمت العلم عشرين سنة
"Aku belajar adab selama tigapuluh tahun, dan aku belajar ilmu selama duapuluh tahun"

Seorang ulama Salaf menasehati anaknya :

يا بنى لأن تتعلم بابا من الأدب أحب إلى من أن تتعلم سبعين بابا من أبواب العلم
"Wahai anakku, aku lebih suka melihatmu mempelajari satu bab tentang adab dibanding mempelajari tujuh puluh bab tentang ilmu"
Al Mikhlad bin Husain berkata kepada Imam Ibnul Mubarak :

نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من الحديث
"Kita jauh lebih membutuhkan banyaknya adab dibanding banyaknya hadits"
Imam Syafi'i pernah ditanya seseorang tentang bagaimana besarnya keinginan dan kesungguhan beliau untuk belajar dan memahami adab. Beliau menjawab :
أسمع بالحرف منه مما لم أسمعه فتود أعضائى أن لها أسماعا فتنعم به
"Ketika aku mendengarkan satu huruf saja tentang adab yang belum pernah aku dengar sebelumnya, maka aku rasakan seluruh anggota tubuhku menginginkan untuk mempunyai pendengaran sehingga mereka mendengarnya dan mendapatkan nikmatnya adab"
Lalu orang itu bertanya lagi :
"Lalu bagaimana keinginanmu mempelajari adab itu ?"
Beliau –rahimahullah- menjawab:
طلب المرأة المضلة ولدها وليس لها غيره
"Seperti seorang ibu yang sedang mencari anak satu-satunya yang hilang"

Lalu beliau berkata
ليس العلم بما حفظ العلم ما نفع
"Ilmu bukanlah diukur dengan apa yang telah dihafal oleh seseorang, tetpi diukur dengan apa yang bermanfaat bagi dirinya"

Diriwayatkan dari Musa bin Nushair, beliau berkata :
"Aku mendengar Isa bin Hammad menasehati para pelajar ilmu hadits:
تعلموا الحلم قبل العلم
"Pelajarilah kelembutan hati dan kerandahan jiwa sebelum kalian belajar ilmu"
Imam Ibnu Wahab berkata :
ما تعلمت من أدب مالك أفضل من علمه
"Aku lebih mengutamakan belajar adab kepada Imam Malik dibanding belajar ilmu darinya"
Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) berkata :

الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلى من كثير من الفقه لأنها آداب القوم وأخلاقهم
"Kisah-kisah tentang kehidupan para ulama dan duduk dalm majlis mereka lebih aku sukai dari mempelajari banyak ilmu, karena kisah-kisah itu penuh dengan ketinggian adab dan akhlak mereka"
Imam Ibnul Mubarak menyusun sebuah syair
أيها الطالب علما ائت حماد بن زيد
فاقتبس علما وحلما ثم قيده بقيد

Wahai para penuntut ilmu, datanglah kepada Imam Hammad bin Zaid
Dan belajarlah ilmu dan kelembutan hati lalu ikatlah dengan pengikat yang kuat
Semua ini disampaikan oleh para ulama salaf di zaman yang umat manusia masih sangat dekat dengan ulama dan ahlul ilmi yang menjaga adab dan ilmu mereka, bagaimana dengan zaman akhir yang kemungkaran dan kebodohan telah merajalela ?

KETEGASAN TIDAK SAMA DENGAN BERSIKAP KASAR DAN KERAS. KARENA KETEGASAN BISA DISAMPAIKAN DENGAN CARA YANG LEMBUT
Sebagaimana ketegasan Musa dan Harun terhadap Fir'aun yang disampaikan melalui kata-kata yang lembut atas perintah Rabb mereka
 "Pergilah kamu beserta saudaramu (Harun) dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. MAKA BERBICARALAH KAMU BERDUA KEPADANYA DENGAN KATA-KATA YANG LEMAH LEMBUT, MUDAH-MUDAHAN IA INGAT ATAU TAKUT." ( QS Thahaa 42 – 44)
Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Maka disebabkan kasih sayang dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. SEKIRANYA KAMU BERSIKAP KERAS LAGI BERHATI KASAR, TENTULAH MEREKA MENJAUHKAN DIRI DARI SEKELILINGMU. Karena itu maafkanlah -berikan kemudahan dan maklumi, pen- mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya". (QS Ali Imron 159)
Rasulullah -shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda :
من يحرم الرفق يحرم الخير
 "Barangsiapa yang mengharamkan dirinya (membenci) sikap lemah lembut maka itu berarti ia menolak kebaikan" (HR. Muslim)
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Dari Aisyah Rodhiyallohu 'anha, Rasulullah Bersabda :
"Sesungguhnya tidaklah sifat lemah lembut ada pada suatu tindakan kecuali ia pasti akan membuat tindakan itu indah, dan tidaklah sifat lemah lembut dicabut dari pada suatu tindakan kecuali ia pasti akan membuat tindakan itu cacat." (HR. Muslim)
يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِى عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِى عَلَى مَا سِوَاهُ

Dari Aisyah Rodhiyallohu 'anha, Rasulullah Bersabda :
"Wahai Aisyah sesungguhnya Allah Maha Lemah lembut dan Mencintai kelemah lembutan, Dia akan memberikan karunianya atas mereka yang bersikap lemah lembut dan tidak memberikannya kepada mereka yang bersikap kasar, serta akan memberikan kepada mereka apa-apa yang tidak Allah Berika kepada selain mereka" (HR. Muslim)
Anas Bin Malik berkata : "Suatu ketika datang seorang Arab Badui dan kencing di pojok Masjid, maka orang-orang datang memarahinya. Seketika Rasulullah -shollallohu 'alaihi wasallam- melarang mereka, setelah orang itu menyelesaikan Rasulullah -shollallohu 'alaihi wasallam-memerintahkan para shahabat untuk mengguyur bekasnya dengan air"
Dalam hadits lain ditambahkan :
"KALIAN TIDAK DIUTUS KECUALI HANYA UNTUK MEMBERIKAN KEMUDAHAN BUKAN MEMBUAT KESULITAN" (HR Bukhari)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

"Ya Rabb ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku" ( QS Thahaa 42 – 44)

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemahnya hati dan kemalasan, sifat pengecut, kikir, kepikunan dan dari azab kubur.
Ya Allah limpahkan pada hatiku ketaqwaan kepada-Mu dan sucikanlah ia sesungguhnya Engkau lah sebaik-baik Yang Mensucikan hati. Engkau lah pelindung hatiku dan Yang Paling dicintainya".
"Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak pernah tenang, nafsu yang tidak pernah merasa puas dan dari do'a yang tidak pernah dikabulkan" (HR Bukhari dan Muslim )
 Andai setiap kita mampu meneladani para salaf –rodhiyallohu 'anhum-.
 Allahumma habbib ilainaa hubba Nabiyyika wa hubba man yuhibbuhu : Ya Allah karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi Mu shollallohu 'alaihi wasallam dan kepada mereka yang mencintainya. Wallohu Jalla Fie 'Ulaahu A'lam.
Oleh: Al Abdul Faqir Ilaa Maghfiroti Robbihil Qodiir Abu Izzuddin Al Hazimi
Bumi Allah 27 Shofar 1434
Source: Fuad Al Hazimi II
(siraaj/arrahmah.com)

Tuesday, January 1, 2013

Diary Bodoh - Kaleidoscope 2011 Cari Makan

From my old fb

Kaleidoscope: December
Beginilah rasany detik2 jelang akhr tahn..
Liat dompet, hny trliat bbrap lembar..
Bila digoyang2, ada bunyi gemerincing..krincing2 kaya’ celengan
haha..

Ada pula krtu gesek bila dimasukkan mlah bunyi tulalit..
Uang kertas g kluar2, eh malah maksa msuk si satpam yg brbadan kekar..
”Ada apa masss?” menyeringai dgn senyum jahatny!
Emang ane tampang2 pmbobol ATM kah?
haha..

Ni bnsin hny cukup buat sparo prjalanan sj..
Speda udah ngrasa haus, ga juga dberi2 pengairan..
Klo dipaksa dinaiki, malah minta dorong..
Dan akirny KTP nginap nd’ toko kelontong
haha..
Skrag aj KTP msih nginep nd’ Kdiri,
Untung za, dulu pulangny pas sndiri.. 
haha..

Ah biarin aj hilang,
Slama msih blum tinggal di negeri orang..
KTP hilang, mudah dperbarui,
Minta dobel, haha, juga bs dilayani..
Wani piro? 
haha..

Siang2 gini, mgkin enakny mmbayangkan hidup di zaman batu..
Tidur siang2 diatas po’on, bisa seharian malah..
Dan g kuatir kehabisan stok makanan..
Bhan makann malah datang mnghampiri dn berkeliaran di bwh kaki..
Kpanpun sat trbangun, lapar..tinggal turun dr po’on..
GLoDAk!! timpuk pas kepalany dan sajikan di atas nyala api..
Hula hula hula hula..dan tidur lagi..
haha..
http://dewyabo.blogspot.com/2010/05/bingung-cari-makan.html

Beda ama zaman skrag..
Bahan mkanan srba sulit, klo pun ada..
Hrus brusaha keras mmbanting tulang, mngendap2..
Brburu nd’ kulkas tetangga!!!
haha..

Kan dah jadi hukum adat tak trtulis!
Etika brtamu, dgn meniru siasat perang..
Bila tak bisa serang musuh scra lgsung..
Serang dulu bahan makananny..
Haha..
Etika bertamu:
“Msuk kulkas dulu, baru stlah itu msuk kamar!”
haha..

Kamar apa’an?! Kamar tidur?? Kamar Pengantin??
Kamar mayat! Daging beku!
haha..

Emang sulit hdup d zaman skarag..
Bahan makanan sulit..
Kaya’ny hukum kekekalan energi udah g berlaku lagi!
Energi yg dikeluarkan tak setara dgn energi yg masuk..
Smisal cari ssuap nasi 1000 kal, harus pake otot 18 ribu kalori..
haha..kpan gemukny?
Tapi..ada tapiny..
Mski bahan mkanan sulit d zaman skrang..
Ane msih mau idup d zmn ini..Alasanny simpel..
Stelah liat bocoran takdir d atas langit..
Hasilny:
“Trnyata jodoh ane juga idup d zaman skarag”
Sukur2..jodoh ane uda dekat..
Ane hmpir ptus asa.. dulu, ane kira jdoh ane hidup d zmn batu!
Syukurlah..bila ”Kami tak terpisahkan jarak dan waktu”
haha..

Tp kata bolo kurowo..
Ane kurang profesional msalah jodo..
Ane ga sperti Ken Arok atopun sang Arjuna..
haha..gerak ane lambat!

An Expert: 
Kurang dr 5 mnit uda dikasih nomr hape..
Hany dlm sehari uda tau domisili+hr migu tinggal apel pagi..
haha..Bandingkan aj!
The fake Arjuna:
Btuh brbulan2..itupun ngacak nope satu2! (cos ga da yg ngasih)
Dan btuh brtahun2 untuk cari tau “satu” alamat..
Dan itupun hrus diselingi doa smuga g dpat “alamat palsu”..
haha..

Ah smua itu emang prlu tisukuri..
Dgn bgini, dunia juga sdikit bs ketawa ketiwi..
“Sayonara 2011” ?

D jumat siang, saat enak2ny tdur siang..
Msih trjaga, krn mkir bahan mkanan!

ke -- Kaleidoscope 2012

Kapan Aku Mendewasa ??

Tiga waktu yang selalu menampar, sebelum ia pergi menenggelamkanku dalam sudut gelap. Malam ini kurasa tertampar lagi, terasa lebih keras daripada sebelumnya. Mereka mengadili atas kebelum-dewasanya diriku. Ketiganya adalah para hakim yang sedang duduk di meja hijau. Hanya yang berbeda, kesemuanya memegang palunya masing-masing. Selalu tepat sasaran bila mengarahkan palunya untuk mengingatkan bahwa umur ini selalu terbuang setiap detiknya. Ketiganya adalah dua malam tahun baru dan hari kelahiranku.
Source Imagehttp://blocknotinspire.blogspot.com/2012/06/memilih-dewasa.html
Dan kini sudah yang ke 23 kali telingaku mendengar letupan kembang api tahun baru ini. Sedangkan setiap tahunnya semenjak umur ini sudah tak lagi pantas memakai seragam putih abu-abu, selalu berharap agar segera mendapatkan tiket masuk menuju kedewasaan. Dewasa, betapa mahal untuk membelinya dan betapa sulit untuk meraihnya. Terlebih bagiku yang tak lain adalah anak bungsu ini. Dimana dimanja adalah keseharianku dulu, dianggap termuda adalah yang kurasakan setiap waktu. Tapi itu dulu..
Sebelum ku menyadari di depan cermin, dan terlihat mengagetkan, bahwa ku sudah semakin menua. Terasa juga, di setiap forum seperti begitu ditunggu-tunggu komentar yang dewasa dari setiap tuturku. Jawaban dariku ditunggu oleh mereka yang mulai menganggapku -dengan hormatnya- sebagai orang yang dituakan. Tak terasa juga, ku sudah mempunyai anak-anak kecil yang harus dibimbing dengan apa yang pernah kudapati di bangku kecil sekolahku dulu, meski apa yang kudapati dulu berbeda dengan yang harus disampaikan di bangku sekolah masa kini. Juga sudah kudapati para ustadz sesepuh desa mulai menghargai dan mendudukkanku di ruangan musyawarah mereka seolah-olah ku juga bagian dari mereka. Hingga beberapa pemuda-pemudi dengan berbekal qolamnya di sore hari seperti menungguku, untuk membacakan beberapa kitab yang bagi mereka masih sulit untuk dibaca dan difahami sendiri. Tak terasa umur ini sudah sampai di batas-batas itu...
Namun tetap saja, sebenarnya diri ini masih belum terbiasa. Tuntutan menjadi dewasa itu masih membuat diriku tergagap tak berkata. Setiap kubaca kembali apa yang pernah kutulis, setiap kurenungkan kembali apa yang pernah kulakukan, setiap ku fikirkan kembali penilaian orang yang mereka ucapkan tentang diriku, ada saja penyesalan kenapakah diri ini sulit mendewasa. Kalimat yang keluar dari mulut dan jemariku masih dikerumuni kalimat yang kekanak-kanakan dan penuh bahasa milik remaja-remaja “ababil”. Dan kenyataan sepertinya mengatakan demikian. Di umurku yang ke 23 ini aku masih berfikir bahwa diriku masih belum stabil..
Aku belum terbiasa untuk tidak mendapat pertolongan orang lain dalam masalah-masalah sepeleku, masih saja sering merepotkan orang lain dalam setiap sendi kehidupanku. Ku masih belum terbiasa mengatasi hilangnya beberapa perhatian dan campur tangan dari lingkungan sekitar yang semakin hari pasti akan semakin berkurang. Masih bagi diri ini, seperti tak ada hari tanpa melibatkan mereka untuk menyuapiku..
Baru ku sadari akhir-akhir ini, dan sering ku terjerumus terjebak di penjaranya. Menua itu pasti, dewasa itu pilihan. Di dalam sebuah peribahasa konyol yang hanya berlaku bila masih di usia muda belia. Karena, ternyata bila sudah ada angka dua di depan setiap pertambahan usia, dewasa itu bukan lagi sebuah pilihan akan tetapi sudah menjadi “tuntutan”. Bila ingin hidup normal dan sesuai dengan ras manusia pada umumnya.
Tak selamanya ku akan menyendiri seperti ini, tak selamanya ku berpura-pura merasakan biasa saja menghadiri setiap pernikahan sahabat-sahabatku. Ku bukanlah anti-sosial, meski ku hanya tak mengerti tata cara bergaul yang mendewasa itu. Semenjak ditetapkan fisikku sudah seukuran dewasa menurut agama, seharusnya di setiap harinya, ku juga harus menyadari meski mentalku masih terlambat dewasa, bahwa setiap kesalahan yang kubuat, buah dosanya harus kupikul sendiri..hanya getahnya saja mungkin menyebar ke sekitar.
Akhirnya suatu saat, di kala masih ada nafas ini, saat ku masih diizinkan bertemu dengan jodohku. Ku ingin mengucapkan pelan padanya malam ini..diriku saat ini tak kalah semangatnya dengan dirimu, ingin sekali segera membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah...akan tetapi maaf sekali, saat ini aku masih belum cukup mendewasa..masih belum siap untuk mendidik anak-anak kita kelak..jadi bersabarlah..

Aku hanya masih belum bisa menempatkan diriku di situasi dan kondisi yang menuntutku dewasa..


*Saat malam berwarna-warni oleh letusan kembang api 2013

Monday, December 31, 2012

Diary Bodoh - Kaleidoscope 2012 Cari Kerja

Liburan kali ini sungguh sangat lama sekali –terasa seperti liburan setahun- dari 2012-2013. Enak sekali diriku menjadi seorang “yang katanya” guru itu. Pagi masuk (gak terlalu pagi amat) dan sebelum matahari condong ke barat sudah ada di rumah lagi. Sebentar saja sudah ganti baju perang lain dan berhadapan dengan musuh yang berbeda pula (pake topi menenteng tas merah dan mbolang!!). Makan juga tercukupi kalau mau makan. Intinya semua hal tentang guru itu menggemukkan badan. Libur aja sampe setahun!!
Tapi dari awal sebenarnya tak ada keinginan, untuk menjadi orang yang selalu pegang spidol dan melukis di whiteboard ini (hanya kadang pake’ proyektor :D). Sementara rencana yang telah ku sketsa masa kuliah dulu, setidaknya dalam sekali ku hidup, salah satu waktuku harus diisi dengan hal yang mempunyai cita rasa pendidikan dan pengajaran, dan 4 tahun dirasa cukup lah untuk menjadi seorang guru. Kalau dihitung matematis pun sepertinya seimbang, 4 tahun ku menimba ilmu di jurusan pendidikan dan 4 tahun pula ku akan berkecimpung dengan dunia pendidikan ini (rencana). Keinginan untuk memperpanjang kontrak (SK kepsek) jikalau tak ada hambatan (semua ikhlas) akan kuhentikan. Tapi rencana Tuhan who knows.

Sebelum mengenal dunia didik-mendidik ini atau yang kuanggap 4D (datang-duduk-dhoweh, dlongop- diabsen, hha i’m sucker) dan kali ini juga yang ingin ku jadikan sebagai tulisan kaleidoscope-ku selama 2012 ini adalah pengalamanku mencari kerja, dulu diriku yang berbekal ijazah pendidikan sempat di awal tahun 2012 merantau ke Kota Surabaya mencari kerja. Mulai dari Desember-Januari-Februari more than three months pulang pergi dari Tulungagung kota tercinta ke kota penuh sesak itu. Mau bagaimana lagi, after graduated from university kuliah jurusan bahasa Arab dan 6 bulan mendekam di operator warnet, menyadari diri sepertinya tak memiliki kompetensi khusus to become an entrepeneur, akhirnya pilihan terakhir seeking a job juga. And the crowded city was in my mind that time, Surabaya.
Mulai dari Relationship Officer atau Sales Executive atau apalah namanya itu, tak kurasa penting mengingat nama-nama turunannya yang banyaknya lebih dari sepuluh itu (setiap perusahaan menamai strategi marketing mereka dengan nama yang berbeda-beda) sampai profesi driver (nama kerennya “sopir tembak” gan) sedikit pernah kurasakan keringatnya (meski sedikit dan sebentar).
Dan mulai dari tes kompetensi, TPA, tes yang menambah-nambah angka yang berlembar-lembar (lupa ku namanya), interview berikut tes psikologinya, akhirnya mereka-mereka itu (berlembar tes masuk itu) memutuskan bahwa bukannya ku diterima atau ditolak di perusahaan, aneh memang. Melainkan mereka bersama-sama memojokkanku dan memvonis diriku bahwa:// ada beberapa urat syaraf yang sudah tidak berfungsi lagi di kepalaku. Palu pun di ketuk tiga kali dokk dokkk dokk// Argggh keluar jalur ni kalimat... sudahlah, yang hendak ku maksudkan sebenarnya adalah bahwa diriku diterima kerja dan beberapa diantaranya tidak lolos uji interview.
Apabila bidang marketing memang hampir 90% persen lulusan S1 pasti diterima kerja di bidang itu (karena marketing sebagian besar sebenarnya untuk lulusan SMA) kecuali bila tak bisa naik motor :D, lebih-lebih bila mencantumkan fotokopy SIM A, kuberi prosentase hampir 100% bahwa SIM A itu sangatlah dipertimbangkan oleh perusahaan (tapi bila nego gaji sudah deal). Seperti diriku saat itu, langsung bisa ikut program training. Tapi akhirnya sama seperti sebelumnya, sama juga, tetep keluar masuk perusahaan. Karena tidak ada kecocokan diriku dengan perusahaan (tapi beberapa diantaranya memang perusahaan yang tidak menerimaku :D bersikap fair).
Setelah marketing yang dibumbui dengan jenjang karir yang (katanya) jelas itu tak mempunyai kecocokan, akhirnya mencari pekerjaan bagian produksi. Namun sama juga, bagian manufacturing ini juga kurang sesuai dengan kecocokan hati dan postur tubuh (asal tahu saja badanku sangatlah berbeda jauh dengan mas Aderai yang sering minum mbah Marijan itu), juga jam kerjanya yang tak menentu ada perpindahan shift sehingga merasa tidak cocok lagi. Tapi yang paling dominan alasan sebenarnya adalah adanya sedikit gengsi dari dalam diri (S1 bukan untuk bagian produksi, itu bagiannya kejuruan SMK, trus apa bedanya) dan jadilah akhirnya ku juga tak mengambilnya. Alasan kesehatan fisik dan mental.
Setelah perburuan pekerjaan yang melelahkan dan menguras waktu itu, akhirnya terciptalah beberapa prinsip hidup yang baru bagiku (seperti: i’ll never ever work at convensional banks or somewhere else which are uncategorized their halal label or still debated among ulama’il muslimin, dan kuharus bisa mencari pekerjaan yang lebih halal lagi untuk keluargaku kelak, karena akulah pemimpin di dalam keluarga kecil ku kelak, amin), yang tak boleh kulanggar sendiri prinsip itu. Dan jadilah aku orang yang “hampir” bijak yang sebelumnya “mendekati” kegilaan. Bahkan hampir berubah warna rambut ini dari sebelumnya hitam bermigrasi ke putih :D. Yang dulunya imut-imut berubah menjadi semakin kisut. Dan yang dulunya tak berjenggot, kini mulai tumbuh rambut-rambut yang katanya simbol “bijak” itu. Jadilah wajahku seperti seorang “yang tercerahkan” (meski kulitku gelap :D). Yang juga merasa sudah kenyang dengan asam garam bentuk-bentuk penipuan lowongan pekerjaan.
Sementara itu muncul beberapa argumen-argumen yang kusimpulkan sendiri mengapa diriku terkadang tak bisa diterima di beberapa perusahaan, intinya tak bisa diterima kerja di tempat yang diinginkan. Dan kesimpulan terbesar ternyata mengarah pada ijasahku, ijasah yang tertulis di sana sebuah gelar, Syamsul Arifin, SPdI **. Ah ini dia masalahnya. Namun ku tak mau mengatakan itu adalah sebuah kesalahan bahwa diriku dulu salah ambil jurusan pendidikan dan bukannya jurusan yang lain setelah lulus SMA, lebih memilih bahasa Arab daripada bahasa yang tenar dan lebih modern lainnya (meskipun terkadang ada sedikit sesal juga kenapa begitu, tak bisa dipungkiri). Karena inilah memang jalan hidupku, takdirku, yang ku harus berusaha ikhlas menerimanya.
Akhirnya, saat ini di penghujung akhir tahun. Ku masih menjalani takdirku, (tidak lagi bekerja di kota besar dan mungkin lebih maju dari kotaku) yang hari ini masih payah menjadi seorang guru bagi murid-muridku tercinta. Menjadi ustadz bagi santri-santri yang mencari ilmu dan barokah. Dan sepertinya ku masih payah dan seperti tak memiliki tanggung jawab pada para orang tua murid, wali santri, keluarga, dan lembaga yang menaungi. Terlebih, sepertinya tak mampu dan tak pantas untuk dipertanggungjawabkan esok kelak. Semoga hidup kita semuanya selalu meniti dalam ridho-Nya..Amin

**Aku adalah yang saat ini berusaha untuk ikhlas, untuk tidak mengingat kekalahanku dalam mempertahankan ijasah Bahasa Arab ku di hadapan Area Manajer yang mempermasalahkan ijasah, padahal telah lulus tes tulis dan tes interview sebelumnya.
**Kaleidoscope tentang perjalanan asmaraku di 2012 tak jauh beda dengan pencarian kerjaku..i’m suck, mungkin lain kali akan kutulis setebal kamus, seberapa payahnya diriku dalam urusan ini... :D

Ke --- kaleidoscope 2011

Facebook Comment