Showing posts with label Ungkapan Hati. Show all posts
Showing posts with label Ungkapan Hati. Show all posts

Thursday, January 15, 2015

Kosakata Bahasa Arab untuk Anak


Download mp3
Download teks hafalan pdf

Menghafalkan kosakata Bahasa Arab terkadang sulit bagi anak didik, baik bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), TK, ataupun Madrasah Ibtidaiyah. Namun ada metode terbaru untuk mengajarkan kosakata ini dengan metode taghonny yaitu dengan memadukan kosakata bahasa Arab dengan lagu yang disukai oleh anak-anak.

Berawal dari sukarnya mengajarkan bahasa Arab inilah, sebagai guru di sekolah dasar saya menggubah beberapa lagu yang sudah tidak asing bagi anak anak untuk dijadikan hafalan. Mereka sangat antusias, tentu saja untuk bernyanyi sambil menghafalkan mufrodat sehingga mengajarkan kepada mereka menjadi lebih mudah.Beberapa diantara lagu yang digubah (dan belum izin :D karena ndak ngerti) adalah lagu anak gembala yang dinyanyikan tasya, lagu 10 malaikat, bintang kejora, dsb.

Dan jadilah beberapa lagu seperti :
Nama Buah
Benda di Sekolah
Nama Hewan
Nama Tempat
Di Dapur
Nama Hari
Di Kelas
Di Rumah
Aina Dimana
Alam Semesta
Nama Pakaian
Alat Tulis
Anggota Tubuh
Ana Saya
Anggota Keluarga
Nama Profesi
Alat Transportasi

Kenapa saya mengajarkan mufrodat ini dengan lagu ?
1. Dalam mengajarkan bahasa Arab, dahulukan maharah kalam daripada maharah kitabah, agar anak terbiasa mengucapkan dan mengajari mereka untuk lebih percaya diri
2. Anak kecil belum saatnya untuk menggunakan otak logika, ajari mereka dengan lagu adalah lebih tepat.
3. Anak kecil lebih suka bermain daripada berfikir, maka ikuti cara belajar mereka dengan "bermain sambil belajar"

Ah itu saja dulu, jika ada yang ditanyakan inbox saya aja di Facebook klik
Dan akhirnya..
Mari bagikan kepada sesama...jika bermanfaat


"Ahibbul arob litsalatsin, li anny 'arobiyun, wal qurana arobiyun, wa lughota ahlil jannati 'arobiyun..au kama qolan nabiyu shollallahu alaihi wasallam"


Thursday, August 1, 2013

Maaf, Sudah Ada Yang Naksir

Kodok maen ujan melulu, tapi gak pernah influenza.

Semut makan gula melulu, tapi kagak ada yang diabetes mellitus.

Macan sering makan daging, kapan darah tingginya?

Kucing gak pernah sikat gigi, tapi gak ada yang sakit gigi.

Burung terbang kena angin melulu, mana ada yang pernah masuk angin?
Source Image : Baltyra.com 

Kambing baunya minta ampun, tapi temen-temennya pada gak bau tuh.

Anjing kawin sembarangan, kagak ada yang AIDS.

Kerbau digigitin nyamuk, gak kena DBD.

Ayam tiap hari makan dicomberan, sehat-sehat aja.

Beruang jalan kemana aja, kagak takut dirampok.

Kijang kapan pernah ikut Pelatnas?, tapi larinya kenceng banget yaah...

Udang biarpun “goblok”, gak pernah dimarahin orang tuanya.

Singa walaupun jadi raja, anak-anaknya gak ada yang jadi “business animal”


Monyet, emang sih, mukanye kayak gitu, tapi ada aja yang naksir.
:D

Woles aja brow..






Friday, May 10, 2013

Kadang Saat Sesak

*Saya kira begitu

Saya kira, burung tak punya rasa sedih,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa terbang,
Kapanpun mereka mau

Saya kira, ikan tak punya rasa sesal,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa berenang,
Kapanpun mereka ingin

Karena manusia,
Kadang saat sedih, sering saat sesal
Mereka jadi berhenti makan, berhenti mandi,
Bahkan berhenti berpikir sebagai manusia

Aih, saya kira, cacing juga tak punya rasa sesak
Karena nampaknya, mereka selalu bisa menggali tanah
Kapanpun mereka maju

Juga ayam jago, tak punya rasa kecewa
Karena nampaknya, setiap pagi dia selalu berkokok
Kapanpun, hari apapun, mau apapun

Karena manusia,
Kadang saat sesak, sering saat kecewa
Mereka jadi berhenti maju, nggak move on, malas bangun pagi
Bahkan kepengin hari menjadi berhenti baginya

Mungkin begitu
Mungkin juga tidak demikian

Tere Lije

Membangun "Rumah" Tanpa Tangga

MACAM-MACAM RUMAH TANGGA

Nikah merupakan pintu masuk menuju Rumah Tangga. Maka sangat urgen kita pertanyakan "Rumah tangga macam apa yang akan kita bangun?"

Di bawah ini ada beberapa contoh rumah tangga yang ada di sekitar kita (bisa ditambahkan lagi dan silakan dipilih mana yang cocok):

1. Rumah Tangga Bisnis

Pada awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa keuntungan materi yang akan diperoleh bila aku menikah dengan si fulan, berapa tabunganku akan bertambah saat menikah dan setelah menikah. Apa pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan mengurangi. Dan bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira dapat menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini dst. Rumah tangga seperti ini banyak sekali ditemukan di negara Barat yang hanya berfikir pada materi.

Allah telah berfirman: “Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah yang memperoleh balasan berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS. 34:37).

2. Rumah Tangga Militer

Yang terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau komando komando layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekuensinya adalah hukuman, baik berupa umpatan atau bahkan pukulan. Di sini tidak ada suasana dialogis yang mesra, anggota keluarga yang berperan sebagai kopral, selalu merasa tertekan dan takut bila ada sang jendral di rumah, dan selalu berdoa dan berharap agar sang jendral segera berlalu keluar rumah.

3. Rumah Tangga Arena Tinju

Bila suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi yang setara serta pendapatnya lah yang benar dan harus terlaksana. Bila ada perbedaan dan salah faham sedikit saja, maka digelarlah pertandingan yang dapat berupa, baku cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring terbang). Masing-masing berusaha membuat KO lawannya dengan berbagai taktik. Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.

4. Rumah Tangga Islami

Di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, baik individu maupun seluruh anggota. Mereka berkumpul dan mencintai karena Allah, saling menasehati ke jalan yang ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Setiap anggota betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Rumah tangga yang menjadi panutan dan dambaan ummat yang di dalamnya selalu ditemukan suasana sakinah, mawaddah dan rahmah.

Merupakan surga dunia, seperti yang sering kita dengar, Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Baiti jannati”, Rumahku adalah surgaku.” Rumah yang dimaksud di sini tentunya bukan bangunan fisiknya yang bak istana dengan taman yang luas dan kolam renangnya, tapi rumah di sini adalah rumah tangga “ruh” dari rumah tersebut.


Silakan dipilih bagi Anda sekalian yang sudah mendekati dan sudah berumah tangga, dan silakan kembali ngaplo buat para jomblo.




Hati Yang Gundah

FIRMAN DALAM HADITS QUDSY UNTUK HATI YANG GUNDAH

“Wahai anak Adam! Siapa yang bersedih karena dunia, hal itu hanya akan menjauhkannya dari Allah.
Di dunia dia lelah, di akhirat mendapat susah. Allah akan membuat hatinya selalu risau, selalu sibuk
berkepanjangan, -miskin tak pernah bisa kaya, dan selalu diliputi oleh angan-angan.

Wahai anak Adam! Umurmu setiap hari berkurang, tapi engkau tidak mengetahui, Setiap hari Aku
datang membawa rezekimu, tapi engkau tak pernah puas dengan yang sedikit, dan tak pernah
kenyang dengan harta yang banyak.

Wahai anak Adam! Setiap hari aku berikan rezeki padamu. Sementara setiap malam para malaikat
datang pada-Ku membawa amal burukmu. Engkau makan rezeki-Ku, tapi engkau bermaksiat kepada-
Ku. Engkau berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Kebaikan-Ku tercurahkan untukmu, tetapi
kejahatanmy yang sampai kepada-Ku. Sebaik-baik kekasihmu adalah Aku. Sedangkan seburuk-buruk
hamba-Ku adalah engkau. Engkau lepaskan apa yang Kuberikan padamu. Kututupi keburukanmu
setelah sebelumnya terbuka. Aku malu padamu, tetapi engkau tak pernah malu pada-Ku.
Engkau
melupakan-Ku dan mengingat yang lain. Engkau merasa takut pada manusia, dan merasa aman dari-
Ku. Engkau takut pada murka mereka dan tidak takut dengan murka-Ku.”

----Hadis Qudsi, dikutip dari kitab Kimiya As-Sa’adah karya Imam Al-Ghazali

Friday, April 19, 2013

Tidak Menikah Why (Not) Final

Berkaitan dengan “dianjurkannya” seseorang agar tetap melajang/ jomblo sampai batas waktu tertentu. Atau bahkan menahan diri untuk tidak menikah sampai akhir hayat. Uraian tersebut pernah disinggung oleh beliau KH. Imam Makruf saat Haul Ponpes Hidayatul Mubtadi’in, disiarkan secara live (dan bisa di streaming online) di stasiun TV ahlussunnah wal jamaah yakni TV9 dan jaringan radio Madu FM serta direkam secara live juga oleh penulis (xixixi ^_^ ) yang pas bisa hadir (MP3 dapat download di sini) :

Bahwa hanya ada DUA pilihan, bagi para jomblowan dan jomblowati akhir zaman:


1. JANGAN KAWIN
Terlepas dari kesunnahan menikah. Dibolehkan (bahkan hampir naik tingkat menjadi “dianjurkan”) bagi umat Islam akhir zaman untuk tidak menikah.Sebentar lagi -mungkin sekitar beberapa abad ke depan- bahkan akan menjadi “diwajibkan” agar tidak menikah. Alasan dan latar belakangnya nanti dulu.
Khusus bagi kaum sawah/ salafy wahaby stop membaca sampai sini dulu, Para militan sawah yang selalu salah faham dan menuduh ini dan itu. Tidak usah diteruskan membacanya, nanti malah menjadi maksiat buat antum semua. Karena berkicau: INI GAK SESUAI SUNNAH!! BID’AH, SYIRIK!! xixixi


2. Bila pilihan pertama dilarang menikah, ternyata merasa keberatan. Akhirnya terpaksa memilih menikah, karena sudah berusaha ikhtiar dan sudah menemukan calon yang terbaik dan alasan lain yang tak tersebut satu persatu. Maka pilihan kedua bila sudah menikah: JANGAN PUNYA ANAK!! 

Sebagaimana ada dari beberapa ulama besar (klik di sini untuk mengenal beberapa di antaranya) yang tetap melajang karena lebih mencintai ilmu, keputusan tidak menikah di akhir zaman, lebih karena alasan “menjaga diri sendiri dan keluarga dari siksa api neraka”. Karena menutup satu lubang kesalahan lebih baik dari pada membuka satu lubang kebaikan. Mendahulukan untuk menjauhi, jalan kepada kemaksiatan itu nilainya lebih baik.
Source Image : www.klikrama.com


Dan di dalam taushiyah lain yang bertema tentang cara mendidik anak, oleh Abuya Yahya Z.M. (MP3 dapat dowload di sini) yang kalau tidak salah, juga pas dihadiri oleh beliau Habib Husain Ba’abud, Habib Helmy al Atthos dan Habib Muhammad bin Salim as Seggaf, semuga penulis tidak salah (memahami) inti pokoknya, berikut:


1. Menikah dan berkeluarga itu adalah ladang ibadah, karena menyempurnakan separuh agama. Namun juga, (bila tidak dipertimbangkan matang tentang kapasitas diri sendiri dan calon pendampingnya) bisa jadi malah akan menjadi ladang menuai dosa.

2. Agar tidak terjerumus ke dalam dosa, maka tuntutlah ilmu agama sebanyak-banyaknya sebelum menikah. (Baca selengkapnya disini)

3. Menikah yang awalnya untuk beribadah, ketika sudah punya anak dan belum tahu cara mendidiknya yang benar. Bisa saja niat berbelok dari jalur awal. Sebagaimana orang tua akan memperoleh kebaikan sebab anak yang sholeh, orang tua juga akan bertanggung jawab kelak atas perilaku tidak baik yang dilakukan oleh anak.

4. Meskipun orang tua ahli ibadah, namun bila anaknya tidak terdidik. Bisa jadi kelak anaknya yang akan menyeret kedua orangtuanya ke dalam siksa neraka. (dari kisah: seorang anak yang protes kepada Tuhan karena tidak rela melihat orang tuanya dimasukkan ke dalam surga, sementara ia yang sebagai anak kandungnya malah dimasukkan ke dalam neraka)

5. Umur insan siapalah yang tahu selain Allah. Sehingga saat kita telah tiada dan meninggalkan anak keturunan. Kepada siapa anak kita akan terasuh dan terdidik. Apakah kepada calon pendamping kita, yang belum tahu cara mendidiknya. Ingatlah hidup kita setelah mati, tetap mempertanggungjawabkan benih yang kita tanam, yaitu anak. Maka beruntung sekali jika setelah kita tiada, anak kita diasuh oleh seorang ayah atau ibu yang mengerti agama. Umur insan siapa yang tahu. Karena, kita tidak bisa memastikan apakah umur kita kelak bisa sampai mendampingi anak tumbuh dewasa.

6. Kesalahan mendidik anak juga tidak lepas dari sebab yang pertama. Yaitu ketika orang tua memilih pasangannya. Sudahkah kita memastikan calon pendamping kita itu menyejukkan hati, tidak hanya di dunia tetapi juga sampai kehidupan nanti.

7. Namun, mari sama-sama berbenah diri. Sudahkah diri kita ini pantas untuk mendapatkan calon pendamping yang baik. Sebagaimana firman-Nya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula. Yang nantinya akan menurunkan keturunan yang baik pula insyaallah.

8. Ushikum wa nafsiy bi taqwallah


Demikianlah dua taushiyah yang ditafsirkan oleh penulis sendiri. Dan untuk mendapatkan penafsiran yang lebih baik dan lebih lurus. Makanya segera didownload MP3-nya


Akhirnya setelah membaca dari awal sampai akhir:
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian I
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian II
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian III
Tidak Menikah Why (Not) ? bagian Final


Apakah kesimpulan finalnya..
a. Tetap menjadi jomblowan / jomblowati
b. Semakin yakin untuk menuju jenjang pernikahan
c. Atau masih galau


Pilihlah C maka tulisan-tulisan ini akan tetap berlanjut. Xixixi (^_^)
Semoga bermanfaat.


Salam Menyan
(menyejukkan dan nyaman)




Tidak Menikah Why (Not) III

Menjelang usia 24 tahun dan masih sendiri. Ada yang masih santai tapi juga ada yang siang malam jadi pikiran. Adakah dirimu termasuk dalam golongan salah satu dari mereka? Kalau aku saat ini...ya. Namun lebih tepatnya bukan “masih sendiri” tapi “kembali sendiri”. Beberapa tahun yang lalu aku sudah tak dapat mempertahankan sebutan “tidak sendiri” lebih lama lagi, dan jadilah aku sekarang “kembali sendiri” padahal hanya dalam hitungan hari lagi, akan merayakan kembali kelahiranku ke dunia ini, insyaallah amin.

Source Image : deasukata.blogspot.com

Dalam perkembangan kedewasaan, memang yang paling menyakitkan adalah perempuan selalu lebih dewasa daripada laki-laki seumurannya. Ketika perempuan sudah memikirkan rencana menikah, laki-laki masih ragu dan bimbang. Perempuan untuk beberapa waktu masih bisa bertahan, namun keraguan laki-laki seringkali berkepanjangan, akhirnya pihak keluarga tak bisa mempertahankan. Endingnya..si laki-laki jadi korban perasaan!! Tersingkir dari peradaban!! Dan ... dan... kembali menjelma menjadi jomblowan. Xixixi


Oleh karena itu Jomblowan-Jomblowati rahimakumullah ( إنشاء الله ) amin

Baik buruknya keadaan yang terjadi mengiringi kehidupan sudah pasti telah ditentukan. Oleh Dia yang menciptakan makhluknya dengan berpasang-pasang. Dia telah memperhitungkan segala sesuatu. Dan ketetapannya atas dunia beserta makhuk yang menghuninya ini sudah pasti yang terbaik. Sehingga alangkah bodohnya, jikalau keadaan buruk yang menimpa, sampai membuat kita berkata bahwa Tuhan tidak adil, atau bahkan sampai menghilangkan “kepercayaan” kita kepada-Nya. Dia Maha Tahu jalan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Karena itu seburuk apapun keadaan yang menimpa kita, sebenarnya adalah cara terbaik untuk menuntun kita “kembali” ke jalan yang terbaik pula. Keadaan buruk itu hanyalah persepsi. Dan persepsi ada di tangan kita, apakah akan kita rasakan sebagai pahit atau akan kita rubah menjadi manis. Haha sedikit berkutbah menyadarkan diriku sendiri..yang pastinya jomblowan..


Dan memang, jodoh itu adalah sesuatu yang bukan dari kuasaku, aku hanya mampu berusaha. Jikalau dapat memilih tentu aku sudah tak mau lagi berlama-lama menyandang gelar jejaka ini. Dan menyempurnakan separuh agama, seperti mereka yang sudah mendahuluiku melakukan salah satu sunnah Rasulullah ini.


Namun, berbicara sunnah Rasul saw, diriku jadi teringat akan beberapa mutiara hikmah yang disampaikan beberapa kyai dan ustadz yang berkenaan dengan keputusan “aneh” seseorang perihal jodohnya. Baru-baru ini aku mendengarnya, jadi umpama kue masih hangat-hangatnya, dan umpama gadis masih kencur-kencurnya (melenceng dikit xixixi). Langsung aja ke TKP.



TKP : Tidak Menikah Why (Not) ? bagian Final






Wednesday, April 17, 2013

Nikah, Semudah Memikirkannya

Para jomblowan jomblowati rohimakumullah (insyaallah) ketahuilah:
Ngebet KAWIN adalah hak setiap santri, tak ada yang boleh melarangnya. Namun yang sering menjadi problem adalah santri itu seorang pengangguran/ kismin.

Maka ia pun tak tinggal diam dan mencari solusi hingga mendapatkan jawaban yang dapat menghibur hatinya, “Menikahlah... maka kau akan kaya. Menikah adalah salah satu pintu rizki”, ucap Kyainya.

Dengan tekad dan keyakinan kuat pergilah ia untuk melamar. Namun jawab camer, “Kamu kira KAWIN itu JALAN KELUAR? Justru KAWIN itu JALAN MASUK!” bentaknya.

# maksudnya?



Baca juga :
Tidak Menikah Why (Not)

Tidak Menikah Why (Not) II

Jomblowan Jomblowati yang dimuliakan Allah..
Ada kitab berjudul al-Ulama al-'Uzzab alladzina Atsar al-'ilm ala al-Zawaj, karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Kitab ini berisi sekilas riwayat para ulama yang hidup selibat alias membujang atau menJOMBLO hingga akhir hayat, karena sangat sibuk dalam jagat keilmuan.

mulai dari --

  • Bisyr Alhafi 
  • Ibn Jarir Atthabari 
  • Imam an-Nawawi
  • Zamakhsyari al-Khwarizmi
  • Ibn Taymiyyah Al-Harrani 
  • Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah al-Makkiyyah

--- sampai yang tidak bisa disebutkan satu persatu
---
Hanya saja, saya garuk garuk kepala sambil tersenyum kecut saat membaca halaman 14:
[[حتي قال الامام بشر الحافي الكلمة المشهور في هذا المعني [[ضاع العلم في افخاذ النساء

[[وتروى هذه الكلمة بلفظ [[ذبح العلم بين افخاذ النساء

Hehehe
Jomblowan Jomblowati yang belum tahu artinya, boleh tanya ama eyang subur.. :D
wekekek salah...Eyang google maksute inyong..

Baca juga:
Tidak Menikah Why (Not) part 1
Tidak Menikah Why (Not) part 3
Tidak Menikah Why (Not) part final

Maafkan Aku, Ayah

Oleh: (Anonim)
Para suami ataupun calon suami HARUS BACA!!


Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istriku sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.

Begitulah yang kurasakan, karena selama ini aku merasa bahwa aku telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anakku, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anakku.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anakku masih tertidur. Oh, aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anakku yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.

Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, aku langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.
Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!

Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anakku yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:

“Ayah, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya. Karena aku takut mie-nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainanku, aku minta maaf,ayah…“
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku, tetapi, aku tidak ingin anakku melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangisku. Setelah beberapa lama, aku hampiri anakku, kupeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto ibu yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, aku mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun, belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, aku benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang ke rumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, ayah“.
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara
“pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu.

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahuku, bahwa di sekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, Aku yakin, jika istriku masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

Mereka menelponku dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anakku telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun aku sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anakku lagi, tetapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena aku merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf:
“Maaf, ayah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah aku mendorong anakku ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada di kepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk ibu…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yang sama?”

“Aku telah menulis surat buat ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”. Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung,
tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan.

“Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada bunda.”
Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak.

Aku berjanji akan membakar surat-surat atas namanya. Jadi kubawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. aku jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hatiku hancur:

“Ibu sayang, aku sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi bunda tidak ada, jadi aku tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencariku, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Aku pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua. Tapi bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah ibu muncul dalam mimpiku sehingga aku dapat melihat wajahmu dan ingat bunda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi ibu, mengapa engkau tak pernah muncul?”

Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena aku tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istriku.
----
Note : Untuk para suami dan laki-laki, yang telah dianugerahi seorang istri/ pasangan yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari pada istrimu. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yang bisa menggantikannya.

(cerpen tanpa nama pengarang ini dimuat di beberapa fanspage, group FB, maupun blog)

Baca juga:
Cerpen: Surgo Nunut Neroko Katut (untuk perempuan)

Tuesday, April 16, 2013

Tidak Menikah Why (Not) ?

IMAM AN-NAWAWY MEMBUJANG SAMPAI AKHIR HAYAT

Jangan mudah terinspirasi dengan seorang ulama besar sekaligus muhadits yang nge-jomblo sampai akhir hayatnya tanpa mengetahui illahnya, siapakah beliau?

Beliau adalah Pengarang :

  • kitab Ar-Raudhah (Raudhatut Thalibin)
  • kitab Al-Minhaj
  • kitab Mukhtashar Muharrar Fil Fiqh
  • kitab Daqa’iqul Minhaj
  • kitab Al-Manasikus Sughra
  • kitab Al-Manasikul Kubra
  • kitab At-Tibyan Fi Hamalatil Qur’an
  • kitab Tashhihut Tanbih
  • kitab An-Nukat ‘Alat Tanbih
  • kitab Syarh Shahih Muslim
  • kitab Al-Adzkar
  • kitab Riyadhus Shalihin
  • kitab Al-Arba’in
  • kitab Syarh Al-Arba’in
  • kita b Thabaqatul Fuqaha
  • kitab Tahdzibul Asma’ Wal Lughat.


Al-Imam, Al-Hafizh, Syaikhul Islam, Muhyiddin, Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam an-Nawawi (Imam an-Nawawi As-syafi’i rohimahulloh wa ardhoh)

Tentang menikah beliau berfatwa dalam kitab minhaj :

"Nikah hukumnya sunah bagi orang yg membutuhkan dan punya biaya. Jika tidak punya biaya sunah hukumnya meninggalkannya dan lemahkanlah syahwatnya dengan berpuasa. Jika tidak butuh menikah, maka menikah hukumnya makruh kalau tidak punya biaya. Jika punya biaya tidaklah makruh, tetapi melakukan ibadah lebih utama. Saya (an-Nawawi) berkata jika memang seseorang tidak menggunakan waktunya untuk beribadah, maka nikah lebih utama".

Beliau hidup membujang sampai akhir hayatnya, beliau lalui hari-harinya dengan beribadah kepada Alloh azza wajalla, banyak menulis karya karya ilmiah, mengarang kitab kitab bermadhzab syafi'iyyah, mengajar dan menasihati. dan Inilah yang telah mengangkat ketinggian pribadinya, naffa'anallohu bi'ulumihi wabarokatihi...

Subhanallah


Baca juga :
Mencari Jodoh - Pasrah Kepada Allah
Dimana Jodohku
Tidak Menikah Why (Not) Part II

Jangan Terburu Menikah

Washiat al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man Kepada Para Pemuda

ﻭﻻ ﺗﺘﻮﺯﻭﺝ ﺍﻻ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﺗﻌﻠﻢ ﺃﻧﻚ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﺣﻮﺍﺋﺠﻬﺎ ﻭﺍﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻭﻻ ﺛﻢ ﺍﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻼﻝ ﺛﻢ ﺗﺰﻭﺝ, ﻓﺎﻧﻚ ﺍﻥ ﻃﻠﺒﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺘﻌﻠﻢ ﻋﺠﺰﺕ ﻋﻦ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺩﻋﺎﻙ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺍﻟﻰ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﺠﻮﺍﺭﻱ ﻭﺍﻟﻐﻠﻤﺎﻥ ﻭﺗﺸﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻗﺒﻞ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ, ﻓﻴﻀﻴﻊ ﻭﻗﺘﻚ ﻭﻳﺠﺘﻤﻊ ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﻳﻜﺜﺮ ﻋﻴﺎﻟﻚ ﻓﺘﺤﺘﺎﺝ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﺑﻤﺼﺎﻟﺤﻬﻢ ﻭﺗﺘﺮﻙ ﺍﻟﻌﻠﻢ .
Source Image: rharasalju.blogspot.com

Janganlah engkau (terburu-terburu) menikah kecuali setelah engkau tahu bahwasanya engkau sudah mampu untuk bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan-kebutuhan istrimu. Carilah ilmu terlebih dahulu, kemudian (setelah punya ilmu) kumpulkanlah harta benda dari jalan yang halal lalu menikahlah.

Jika engkau mencari harta benda di tengah-tengah waktumu mencari ilmu, maka engkau akan lemah di dalam mendapatkan ilmu, karena harta benda selalu mengajakmu untuk terus berniaga dengan orang-orang sekitarmu, dan engkau akan tersibukkan dengan urusan dunia juga wanita sebelum engkau benar-benar mendapatkan ilmu.

(Jika itu yang terjadi) maka waktumu akan tersia-siakan, dan engkau akan mempunyai banyak anak, keluargamu akan menjadi semakin banyak juga. Oleh karena itu, maka engkau akan sangat berhajat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dan engkau lalu meninggalkan ilmu.

ﻭﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﻋﻨﻔﻮﺍﻥ ﺷﺒﺎﺑﻚ
ﻭﻭﻗﺖ ﻓﺮﺍﻍ ﻗﻠﺒﻚ ﻭﺧﺎﻃﺮﻙ ﺛﻢ ﺍﺷﺘﻐﻞ ﺑﺎﻟﻤﺎﻝ ﻟﻴﺠﺘﻤﻊ ﻋﻨﺪﻙ, ﻓﺎﻥ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻮﻟﺪ
ﻭﺍﻟﻌﻴﺎﻝ ﻳﺸﻮﺵ ﺍﻟﺒﺎﻝ, ﻓﺎﺫﺍ ﺟﻤﻌﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﺘﺰﻭﺝ.

Sibukkanlah waktumu dalam mencari ilmu pada masa-masa mudamu, pada waktu hatimu masih senggang dari banyak pikiran, kemudian setelah itu (setelah ilmu berhasil diraih), sibukkanlah dirimu untuk mengumpulkan harta benda,karena sesungguhnya banyaknya anak dan keluarga akan mengganggu pikiran. Dan ketika harta sudah kau raih, maka menikahlah.

*Di nukil dari kitab al-Asybah waan-Nadzoir li Ibni Najm
piss-ktb.com/2013/02/2228-mencari-ilmu-dahulu-lalu-baru.html

Baca juga :
Mencari Jodoh - Pasrah Kepada Allah
Dimana Jodohku
Tidah Menikah Why (Not)

Friday, April 12, 2013

Mencari Jodoh - Pasrah Kepada Allah


Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa.
Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

Source Image
http://endyf.blogspot.com

Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita.
Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah.
Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu.
Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku.
Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong...pertimbangkan lagi ya Allah," ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu.
Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya.
Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah.
Ia pun introspeksi diri.

Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku," katanya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi.
Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani "maksa" kepada Allah seperti doa sebelumnya.

Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku," begitu bunyi doanya.

Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya.
Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri.
Lama-lama ia mulai khawatir juga.
Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia.
Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

Abu Nawas memang cerdas.
Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit "diplomatis" dengan Allah.
Ia pun mengubah doanya.

"Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku.
Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah.
Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan.
Maka, berikanlah ia menantu," begitu doa Abu Nawas.

Dasar Abu Nawas, pakai membawa nama ibunya segala, padahal permintaanya itu tetap saja untuk dirinya.
Allah Maha Tahu, tidak perlu dipolitisir segala.

Tapi barangkali karena keikhlasan dan "keluguan" waliyullah Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas.
Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya.
Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.


Lihat Juga:
Dimana Jodohku??
Jangan Terburu Menikah


Source: http://kisahpetualanganabunawas.blogspot.com/2010/09/doa-abu-nawas-untuk-minta-jodoh.html

Saturday, March 30, 2013

Cinta Versi Guru Tahsin

CINTA VERSI GURU TAHSIN
 Alhamdulillah selasa kemaren, baru khatam juz 7 yanbu'a
Jadi banyak yang mengena kalimat gombal di bawah ini
Salam berbagi :D
Source Image: berserakan di fanspage FB

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah, hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti idzhar, jelas dan terang.

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti mad wajib muttasil, paaaaaling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti qalqalah kubro, terpantul-pantul dengan keras.

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti mad thobi'i dalam Quran, buaaanyak banget.

Semoga dalam hubungan, kita ini kayak idgham bilaghunnah ya, cuma berdua seperti lam dan ro'.

Meski perhatianku ga terlihat kayak alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam qomariah, terbaca jelas.

Kau dan aku seperti idghom mutaqooribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, terhenti sempurna di akhir hayat.

Layaknya huruf tafkhim, namamu pun bercetak tebal di fikiranku.

Seperti hukum imalah yg dikhususkan untuk ro' saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun.


Source: akun fb Rizki Adi Prianto
:D

Saturday, March 23, 2013

Senja dan Lelaki Sepi

Suatu senja di bibir pantai Parangtritis cakrawala biru perlahan berbaur dengan semburat jingga. Ombak berlarian menggiring buih ketepian dan mendamparkanya diantara bukit pasir. Aku kembali merasakan sunyi mengekang jiwaku. Tepat di sinilah puluhan tahun aku berdiri dalam penuh sesak hembus angin dan sorak burung camar. Orang-orang berwarna jingga karna pancaran matahari. Mereka tertawa penuh canda sembari berkejaran, menggandeng, memeluk dan mencumbu kekasihnya. Bukanlah aku jika tak memandang matahari dengan ungkapan penuh amarah. Menatap wajah matahari yang kian layu, sedangkan drama tentang malam akan segera dimulai. Akan kulihat rembulan dan ilalang yang memandangku sinis. Berpasang anak muda saling berpangut di bawah purnama dan kerlip bintang yang seperti deretan liontin. Hingga kesendirianku kembali nyata di tengah malam yang luas.
Source Image 
Jambakscorner.blogspot.com 

Tiba waktuku untuk memberi harapan debur ombak dan kepul sebatang rokok untuk memberangus wajahku. Perlahan dengan laju waktu yang menyayat luka sedangkan ia tak mengindahkan apapun dan kepul asap itu menyesakkan nafas, membatasi tiap udara yang ingin berkunjung pada rongga dadaku. Masih pada senja aku berdiri. Berhadapan dan saling menatap, kami serupa kesatria yang akan berperang hingga merasai jiwaku kian membara. Kini matahari hanya separuhnya saja yang bertengger namun kurasakan semakin panas dan hampir membrangus kepalaku. Kupandangi matahari jingga dan wanita yang amat ku kenal berlenggang menghadap ke arahku. Masih bisa kulihat pancaran senyumnya walau ia tak tertawa bersamaku. Masih bisa aku menatap wajahnya yang ayu dibelai warna jingga. Masih bisa kulihat kerlingan matanya yang seperti kilau hamparan samudra. Aku masih bisa menatap semua itu walaupun kini dua orang laki-laki sudah menemaninya. Seorang pria dewasa dan seorang lagi masih balita hingga harus digendong untuk menikmati panorama pantai yang senja.

Sebuah kekeliruanku memang, saat kekaguman dan kerinduan kubiarkan menyiksa relung hati. Hingga ia ku jadikan sosok tempat terindah yang kumiliki walau aku tak pernah menyapanya sebagai kekasih. Aku terlalu larut dalam kekagumanku hingga ia benar-benar pada titik dimana aku harus benar-benar pergi dan meninggalkan semua yang menyertainya. Kini yang akan kulakukan adalah menenggelamkan seluruh hidupku kedalam sunyi.

Tiba-tiba sebuah seruan membuyarkan lamunanku.
“Joko, itu kamu?” tanya seorang wanita yang dulu pernah membuatku separuh gila. “hahaha, ku kira kau sudah lupa” aku tertawa menahan gejolak yang menyesakkan. Masih pada senja kami bercakap-cakap. Kupandangi wajahnya yang tak terlalu berbeda semenjak kami sama-sama lulus menjadi sarjana pendidikan. Raut wajahnya masih menceritakan bagaimana aku pernah menggambarkanya sebagai semesta. Sebagai rerimba yang misterius ataupun sebagai samudra yang menyimpan sejuta makna.

Pencarianku berakhir pada cahaya yang tumpah ruah di matanya. Warnanya coklat kemerahan. Seolah mengembalikan sepotong episode masa lalu. Aku tahu bukan dalam cerita aku menyapanya. Bukan dalam ungkapan suka cita. Bukan pada malam purnama yang digelayuti gerimis. Aku menemuinya pada sajak yang utuh.

Sampai kulayangkan pandang pada bangku yang kutemui di seberang senja di bibir pantai Parangtritis. Butiran pasir dan beberapa debur ombak sesekali menyapu dan hinggap di kaki kami. Memang kini aku tak sendirian menikmati senja namun kehadiran wanita itu justru merambah pada kesunyian. Raut seorang pria yang sejak dari tadi membisu dalam perbincangan kami sepertiya sudah tidak asing lagi. Ya tentu saja. Dia teman sekelasku dulu waktu kuliah. Teman yang aku kenalkan pada wanita yang mampu menyiksaku dengan rasa rindu. Teman yang menjadi pendamping hidupnya sekarang hingga mereka dikaruniai seorang bayi laki-laki yang penuh pesona seperti ibunya.

Entah karna udara yang dingin, entah karna memang matahari hampir tenggelam namun sapaan itu mengingatkanku pada kisah-kisah para pengecut yang tak berani mengutarakan pendapatnya, mengutarakan kebenaran.

Senja telah aku lewati dan sebentar lagi akan ada drama tentang malam. Tentang keberadaanku yang sebengis kematian atau memang aku yang membiarkan waktu untuk membakar wajahku pada siang yang terik. Aku lengah pada hidupku, aku lengah dan lelah. Hingga tiada keindahan yang tepat aku singgahi kecuali kesendirian dalam senja yang hampir tenggelam.

Source: copas tanpa izin, dari akun kompasiana Arif Ardiyana

Wednesday, January 2, 2013

Cintamu Teruntuk Dia

Masih terasa hangat
Mengalir dari perasaan hati
Perlahan menyeruak
Tanpa sebab berteriak teriak
Seolah takut tiada pendengar
Seolah begitu khawatir
Tak terkira jauh hati berjarak
Engkau menatapnya begitu ceria
Seolah ada yang menarik dari wajahnya
Kurasa ada yang berbeda
Namun ku berpura tak sedang peduli
Dan engkau menatapnya begitu ceria
Seperti tatapanmu padaku dulu kala
Bersinar terasa jernih menyapa
Tak rela bila tatapan itu terbagi
Engkau menatapnya begitu ceria
Seolah tak tampak lagi diriku di sana
Hilang keteguhan untuk berdiri lebih lama
Mungkin lebih baik bila ku pergi

Sepertinya ku terjebak
Di kerumunan cinta yang teruntuk dia

* my fictitious scratch :)

Tuesday, January 1, 2013

Diary Bodoh - Kaleidoscope 2011 Cari Makan

From my old fb

Kaleidoscope: December
Beginilah rasany detik2 jelang akhr tahn..
Liat dompet, hny trliat bbrap lembar..
Bila digoyang2, ada bunyi gemerincing..krincing2 kaya’ celengan
haha..

Ada pula krtu gesek bila dimasukkan mlah bunyi tulalit..
Uang kertas g kluar2, eh malah maksa msuk si satpam yg brbadan kekar..
”Ada apa masss?” menyeringai dgn senyum jahatny!
Emang ane tampang2 pmbobol ATM kah?
haha..

Ni bnsin hny cukup buat sparo prjalanan sj..
Speda udah ngrasa haus, ga juga dberi2 pengairan..
Klo dipaksa dinaiki, malah minta dorong..
Dan akirny KTP nginap nd’ toko kelontong
haha..
Skrag aj KTP msih nginep nd’ Kdiri,
Untung za, dulu pulangny pas sndiri.. 
haha..

Ah biarin aj hilang,
Slama msih blum tinggal di negeri orang..
KTP hilang, mudah dperbarui,
Minta dobel, haha, juga bs dilayani..
Wani piro? 
haha..

Siang2 gini, mgkin enakny mmbayangkan hidup di zaman batu..
Tidur siang2 diatas po’on, bisa seharian malah..
Dan g kuatir kehabisan stok makanan..
Bhan makann malah datang mnghampiri dn berkeliaran di bwh kaki..
Kpanpun sat trbangun, lapar..tinggal turun dr po’on..
GLoDAk!! timpuk pas kepalany dan sajikan di atas nyala api..
Hula hula hula hula..dan tidur lagi..
haha..
http://dewyabo.blogspot.com/2010/05/bingung-cari-makan.html

Beda ama zaman skrag..
Bahan mkanan srba sulit, klo pun ada..
Hrus brusaha keras mmbanting tulang, mngendap2..
Brburu nd’ kulkas tetangga!!!
haha..

Kan dah jadi hukum adat tak trtulis!
Etika brtamu, dgn meniru siasat perang..
Bila tak bisa serang musuh scra lgsung..
Serang dulu bahan makananny..
Haha..
Etika bertamu:
“Msuk kulkas dulu, baru stlah itu msuk kamar!”
haha..

Kamar apa’an?! Kamar tidur?? Kamar Pengantin??
Kamar mayat! Daging beku!
haha..

Emang sulit hdup d zaman skarag..
Bahan makanan sulit..
Kaya’ny hukum kekekalan energi udah g berlaku lagi!
Energi yg dikeluarkan tak setara dgn energi yg masuk..
Smisal cari ssuap nasi 1000 kal, harus pake otot 18 ribu kalori..
haha..kpan gemukny?
Tapi..ada tapiny..
Mski bahan mkanan sulit d zaman skrang..
Ane msih mau idup d zmn ini..Alasanny simpel..
Stelah liat bocoran takdir d atas langit..
Hasilny:
“Trnyata jodoh ane juga idup d zaman skarag”
Sukur2..jodoh ane uda dekat..
Ane hmpir ptus asa.. dulu, ane kira jdoh ane hidup d zmn batu!
Syukurlah..bila ”Kami tak terpisahkan jarak dan waktu”
haha..

Tp kata bolo kurowo..
Ane kurang profesional msalah jodo..
Ane ga sperti Ken Arok atopun sang Arjuna..
haha..gerak ane lambat!

An Expert: 
Kurang dr 5 mnit uda dikasih nomr hape..
Hany dlm sehari uda tau domisili+hr migu tinggal apel pagi..
haha..Bandingkan aj!
The fake Arjuna:
Btuh brbulan2..itupun ngacak nope satu2! (cos ga da yg ngasih)
Dan btuh brtahun2 untuk cari tau “satu” alamat..
Dan itupun hrus diselingi doa smuga g dpat “alamat palsu”..
haha..

Ah smua itu emang prlu tisukuri..
Dgn bgini, dunia juga sdikit bs ketawa ketiwi..
“Sayonara 2011” ?

D jumat siang, saat enak2ny tdur siang..
Msih trjaga, krn mkir bahan mkanan!

ke -- Kaleidoscope 2012

Kapan Aku Mendewasa ??

Tiga waktu yang selalu menampar, sebelum ia pergi menenggelamkanku dalam sudut gelap. Malam ini kurasa tertampar lagi, terasa lebih keras daripada sebelumnya. Mereka mengadili atas kebelum-dewasanya diriku. Ketiganya adalah para hakim yang sedang duduk di meja hijau. Hanya yang berbeda, kesemuanya memegang palunya masing-masing. Selalu tepat sasaran bila mengarahkan palunya untuk mengingatkan bahwa umur ini selalu terbuang setiap detiknya. Ketiganya adalah dua malam tahun baru dan hari kelahiranku.
Source Imagehttp://blocknotinspire.blogspot.com/2012/06/memilih-dewasa.html
Dan kini sudah yang ke 23 kali telingaku mendengar letupan kembang api tahun baru ini. Sedangkan setiap tahunnya semenjak umur ini sudah tak lagi pantas memakai seragam putih abu-abu, selalu berharap agar segera mendapatkan tiket masuk menuju kedewasaan. Dewasa, betapa mahal untuk membelinya dan betapa sulit untuk meraihnya. Terlebih bagiku yang tak lain adalah anak bungsu ini. Dimana dimanja adalah keseharianku dulu, dianggap termuda adalah yang kurasakan setiap waktu. Tapi itu dulu..
Sebelum ku menyadari di depan cermin, dan terlihat mengagetkan, bahwa ku sudah semakin menua. Terasa juga, di setiap forum seperti begitu ditunggu-tunggu komentar yang dewasa dari setiap tuturku. Jawaban dariku ditunggu oleh mereka yang mulai menganggapku -dengan hormatnya- sebagai orang yang dituakan. Tak terasa juga, ku sudah mempunyai anak-anak kecil yang harus dibimbing dengan apa yang pernah kudapati di bangku kecil sekolahku dulu, meski apa yang kudapati dulu berbeda dengan yang harus disampaikan di bangku sekolah masa kini. Juga sudah kudapati para ustadz sesepuh desa mulai menghargai dan mendudukkanku di ruangan musyawarah mereka seolah-olah ku juga bagian dari mereka. Hingga beberapa pemuda-pemudi dengan berbekal qolamnya di sore hari seperti menungguku, untuk membacakan beberapa kitab yang bagi mereka masih sulit untuk dibaca dan difahami sendiri. Tak terasa umur ini sudah sampai di batas-batas itu...
Namun tetap saja, sebenarnya diri ini masih belum terbiasa. Tuntutan menjadi dewasa itu masih membuat diriku tergagap tak berkata. Setiap kubaca kembali apa yang pernah kutulis, setiap kurenungkan kembali apa yang pernah kulakukan, setiap ku fikirkan kembali penilaian orang yang mereka ucapkan tentang diriku, ada saja penyesalan kenapakah diri ini sulit mendewasa. Kalimat yang keluar dari mulut dan jemariku masih dikerumuni kalimat yang kekanak-kanakan dan penuh bahasa milik remaja-remaja “ababil”. Dan kenyataan sepertinya mengatakan demikian. Di umurku yang ke 23 ini aku masih berfikir bahwa diriku masih belum stabil..
Aku belum terbiasa untuk tidak mendapat pertolongan orang lain dalam masalah-masalah sepeleku, masih saja sering merepotkan orang lain dalam setiap sendi kehidupanku. Ku masih belum terbiasa mengatasi hilangnya beberapa perhatian dan campur tangan dari lingkungan sekitar yang semakin hari pasti akan semakin berkurang. Masih bagi diri ini, seperti tak ada hari tanpa melibatkan mereka untuk menyuapiku..
Baru ku sadari akhir-akhir ini, dan sering ku terjerumus terjebak di penjaranya. Menua itu pasti, dewasa itu pilihan. Di dalam sebuah peribahasa konyol yang hanya berlaku bila masih di usia muda belia. Karena, ternyata bila sudah ada angka dua di depan setiap pertambahan usia, dewasa itu bukan lagi sebuah pilihan akan tetapi sudah menjadi “tuntutan”. Bila ingin hidup normal dan sesuai dengan ras manusia pada umumnya.
Tak selamanya ku akan menyendiri seperti ini, tak selamanya ku berpura-pura merasakan biasa saja menghadiri setiap pernikahan sahabat-sahabatku. Ku bukanlah anti-sosial, meski ku hanya tak mengerti tata cara bergaul yang mendewasa itu. Semenjak ditetapkan fisikku sudah seukuran dewasa menurut agama, seharusnya di setiap harinya, ku juga harus menyadari meski mentalku masih terlambat dewasa, bahwa setiap kesalahan yang kubuat, buah dosanya harus kupikul sendiri..hanya getahnya saja mungkin menyebar ke sekitar.
Akhirnya suatu saat, di kala masih ada nafas ini, saat ku masih diizinkan bertemu dengan jodohku. Ku ingin mengucapkan pelan padanya malam ini..diriku saat ini tak kalah semangatnya dengan dirimu, ingin sekali segera membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah...akan tetapi maaf sekali, saat ini aku masih belum cukup mendewasa..masih belum siap untuk mendidik anak-anak kita kelak..jadi bersabarlah..

Aku hanya masih belum bisa menempatkan diriku di situasi dan kondisi yang menuntutku dewasa..


*Saat malam berwarna-warni oleh letusan kembang api 2013

Monday, December 31, 2012

Diary Bodoh - Kaleidoscope 2012 Cari Kerja

Liburan kali ini sungguh sangat lama sekali –terasa seperti liburan setahun- dari 2012-2013. Enak sekali diriku menjadi seorang “yang katanya” guru itu. Pagi masuk (gak terlalu pagi amat) dan sebelum matahari condong ke barat sudah ada di rumah lagi. Sebentar saja sudah ganti baju perang lain dan berhadapan dengan musuh yang berbeda pula (pake topi menenteng tas merah dan mbolang!!). Makan juga tercukupi kalau mau makan. Intinya semua hal tentang guru itu menggemukkan badan. Libur aja sampe setahun!!
Tapi dari awal sebenarnya tak ada keinginan, untuk menjadi orang yang selalu pegang spidol dan melukis di whiteboard ini (hanya kadang pake’ proyektor :D). Sementara rencana yang telah ku sketsa masa kuliah dulu, setidaknya dalam sekali ku hidup, salah satu waktuku harus diisi dengan hal yang mempunyai cita rasa pendidikan dan pengajaran, dan 4 tahun dirasa cukup lah untuk menjadi seorang guru. Kalau dihitung matematis pun sepertinya seimbang, 4 tahun ku menimba ilmu di jurusan pendidikan dan 4 tahun pula ku akan berkecimpung dengan dunia pendidikan ini (rencana). Keinginan untuk memperpanjang kontrak (SK kepsek) jikalau tak ada hambatan (semua ikhlas) akan kuhentikan. Tapi rencana Tuhan who knows.

Sebelum mengenal dunia didik-mendidik ini atau yang kuanggap 4D (datang-duduk-dhoweh, dlongop- diabsen, hha i’m sucker) dan kali ini juga yang ingin ku jadikan sebagai tulisan kaleidoscope-ku selama 2012 ini adalah pengalamanku mencari kerja, dulu diriku yang berbekal ijazah pendidikan sempat di awal tahun 2012 merantau ke Kota Surabaya mencari kerja. Mulai dari Desember-Januari-Februari more than three months pulang pergi dari Tulungagung kota tercinta ke kota penuh sesak itu. Mau bagaimana lagi, after graduated from university kuliah jurusan bahasa Arab dan 6 bulan mendekam di operator warnet, menyadari diri sepertinya tak memiliki kompetensi khusus to become an entrepeneur, akhirnya pilihan terakhir seeking a job juga. And the crowded city was in my mind that time, Surabaya.
Mulai dari Relationship Officer atau Sales Executive atau apalah namanya itu, tak kurasa penting mengingat nama-nama turunannya yang banyaknya lebih dari sepuluh itu (setiap perusahaan menamai strategi marketing mereka dengan nama yang berbeda-beda) sampai profesi driver (nama kerennya “sopir tembak” gan) sedikit pernah kurasakan keringatnya (meski sedikit dan sebentar).
Dan mulai dari tes kompetensi, TPA, tes yang menambah-nambah angka yang berlembar-lembar (lupa ku namanya), interview berikut tes psikologinya, akhirnya mereka-mereka itu (berlembar tes masuk itu) memutuskan bahwa bukannya ku diterima atau ditolak di perusahaan, aneh memang. Melainkan mereka bersama-sama memojokkanku dan memvonis diriku bahwa:// ada beberapa urat syaraf yang sudah tidak berfungsi lagi di kepalaku. Palu pun di ketuk tiga kali dokk dokkk dokk// Argggh keluar jalur ni kalimat... sudahlah, yang hendak ku maksudkan sebenarnya adalah bahwa diriku diterima kerja dan beberapa diantaranya tidak lolos uji interview.
Apabila bidang marketing memang hampir 90% persen lulusan S1 pasti diterima kerja di bidang itu (karena marketing sebagian besar sebenarnya untuk lulusan SMA) kecuali bila tak bisa naik motor :D, lebih-lebih bila mencantumkan fotokopy SIM A, kuberi prosentase hampir 100% bahwa SIM A itu sangatlah dipertimbangkan oleh perusahaan (tapi bila nego gaji sudah deal). Seperti diriku saat itu, langsung bisa ikut program training. Tapi akhirnya sama seperti sebelumnya, sama juga, tetep keluar masuk perusahaan. Karena tidak ada kecocokan diriku dengan perusahaan (tapi beberapa diantaranya memang perusahaan yang tidak menerimaku :D bersikap fair).
Setelah marketing yang dibumbui dengan jenjang karir yang (katanya) jelas itu tak mempunyai kecocokan, akhirnya mencari pekerjaan bagian produksi. Namun sama juga, bagian manufacturing ini juga kurang sesuai dengan kecocokan hati dan postur tubuh (asal tahu saja badanku sangatlah berbeda jauh dengan mas Aderai yang sering minum mbah Marijan itu), juga jam kerjanya yang tak menentu ada perpindahan shift sehingga merasa tidak cocok lagi. Tapi yang paling dominan alasan sebenarnya adalah adanya sedikit gengsi dari dalam diri (S1 bukan untuk bagian produksi, itu bagiannya kejuruan SMK, trus apa bedanya) dan jadilah akhirnya ku juga tak mengambilnya. Alasan kesehatan fisik dan mental.
Setelah perburuan pekerjaan yang melelahkan dan menguras waktu itu, akhirnya terciptalah beberapa prinsip hidup yang baru bagiku (seperti: i’ll never ever work at convensional banks or somewhere else which are uncategorized their halal label or still debated among ulama’il muslimin, dan kuharus bisa mencari pekerjaan yang lebih halal lagi untuk keluargaku kelak, karena akulah pemimpin di dalam keluarga kecil ku kelak, amin), yang tak boleh kulanggar sendiri prinsip itu. Dan jadilah aku orang yang “hampir” bijak yang sebelumnya “mendekati” kegilaan. Bahkan hampir berubah warna rambut ini dari sebelumnya hitam bermigrasi ke putih :D. Yang dulunya imut-imut berubah menjadi semakin kisut. Dan yang dulunya tak berjenggot, kini mulai tumbuh rambut-rambut yang katanya simbol “bijak” itu. Jadilah wajahku seperti seorang “yang tercerahkan” (meski kulitku gelap :D). Yang juga merasa sudah kenyang dengan asam garam bentuk-bentuk penipuan lowongan pekerjaan.
Sementara itu muncul beberapa argumen-argumen yang kusimpulkan sendiri mengapa diriku terkadang tak bisa diterima di beberapa perusahaan, intinya tak bisa diterima kerja di tempat yang diinginkan. Dan kesimpulan terbesar ternyata mengarah pada ijasahku, ijasah yang tertulis di sana sebuah gelar, Syamsul Arifin, SPdI **. Ah ini dia masalahnya. Namun ku tak mau mengatakan itu adalah sebuah kesalahan bahwa diriku dulu salah ambil jurusan pendidikan dan bukannya jurusan yang lain setelah lulus SMA, lebih memilih bahasa Arab daripada bahasa yang tenar dan lebih modern lainnya (meskipun terkadang ada sedikit sesal juga kenapa begitu, tak bisa dipungkiri). Karena inilah memang jalan hidupku, takdirku, yang ku harus berusaha ikhlas menerimanya.
Akhirnya, saat ini di penghujung akhir tahun. Ku masih menjalani takdirku, (tidak lagi bekerja di kota besar dan mungkin lebih maju dari kotaku) yang hari ini masih payah menjadi seorang guru bagi murid-muridku tercinta. Menjadi ustadz bagi santri-santri yang mencari ilmu dan barokah. Dan sepertinya ku masih payah dan seperti tak memiliki tanggung jawab pada para orang tua murid, wali santri, keluarga, dan lembaga yang menaungi. Terlebih, sepertinya tak mampu dan tak pantas untuk dipertanggungjawabkan esok kelak. Semoga hidup kita semuanya selalu meniti dalam ridho-Nya..Amin

**Aku adalah yang saat ini berusaha untuk ikhlas, untuk tidak mengingat kekalahanku dalam mempertahankan ijasah Bahasa Arab ku di hadapan Area Manajer yang mempermasalahkan ijasah, padahal telah lulus tes tulis dan tes interview sebelumnya.
**Kaleidoscope tentang perjalanan asmaraku di 2012 tak jauh beda dengan pencarian kerjaku..i’m suck, mungkin lain kali akan kutulis setebal kamus, seberapa payahnya diriku dalam urusan ini... :D

Ke --- kaleidoscope 2011

Friday, December 14, 2012

Ku Masih Menyerah..

Sepertinya waktu ingin mengajak bermain teka teki
Tak banyak yang dipertaruhkan
Mungkin sebatas salah dan malu
Tapi enggan menebak
Menyerah sudah..
Hanya diam melihat putaran dadu
Tak hendak mengira-ngira
Meskipun giliran telah tiba
Semakin menyesakkan dalam ragu..
Keyakinan menghilang tergoyahkan masa
Mau jalan pun,
Tak ada yang pantas dipertaruhkan
Menyisakan keyakinan bodoh nan dungu
Bila berharap seperti undian..
Menang, memang tak disangka..
Bila tak menang, tak perlu lagi mencoba..
Toh tak hilang barang seberapa..

Dungu..
Toh kau pun tak punya apa-apa
Dan akhirnya tetap begitu..
http://nadianovita.wordpress.com/2011/03/22/kata-orang-istilahnya-the-end/

Facebook Comment