Sunday, September 15, 2013

Dimana Harus Mencari Kebahagiaan


Ada seorang sahabat yang curhat, dia seorang PNS, dia mengeluh karena gajinya sedikit, dibandingkan dengan kawannya yang berpendidikan lebih rendah darinya, bahkan lebih sedikit nilai plusnya dibanding dia. setiap kali dia minta pertimbangan tentang gajinya, selalu saja pimpinannya menolak. akhirnya pimpinannya itupun menjadi sasaran cacian, makian dan seterusnya…expression of annoyance!

Dulu juga aku berpikir demikian, sampai suatu ketika aku mengahdiri khutbah jumat dan mendengar khatib membaca ayat 32 dari surat Al Zukhruf: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia”. saat itu aku berpikir, seakan-akan aku belum pernah mendengar ayat itu, dia datang seperti menyirami hatiku yang sedang emosi, karena ketidak-samaan rezeki.

Lihatlah kawan, siapa yang membagi rezeki? Dialah yang maha pemurah yang membagi rezeki, bosmu atasanmu tidak mampu memberi atau mencegah. mereka hanya perantara. apakah kamu harus marah pada bendahara setiap awal bulan kalau dia memberi gajimu 2 juta? apa salah dia sampai kamu harus memaki-maki dia? apa dia yang menetapkan gaji?dia hanya pelaksana tugas dari atasan.

Tidak ada manusia yang bisa menunda apa yang seharusnya milikmu, dan tidak ada juga manusia yang bisa memberi apa yang tidak seharusnya kamu miliki. jatah rezeki sudha diatur Tuhan sejak tahun jabot, sebelum kamu,bosmu, bahkan nenek moyangmu ada. apa yang sudah menjadi jatahmu, pasti akan datang padamu, meskipun pangkatmu rendah dan kamu lemah, dan apa yang bukan milikmu pasti tak akan kamu miliki meskipun pangkatmu tinggi dan kamu berkuasa. coba, bisakah kamu memiliki 1 rupiah dari gaji yang telah ditetapkan untuk temanmu? tidak bisa, dia tetap menerima gajinya, dan kamu tetap menerima hakmu.

Kalau kamu tidak bisa meraih semua apa yang kamu mau, kenapa kamu tidak relakan saja apa yang sudah menjadi milikmu, itu akan lebih melegakanmu dan melegakan orang lain. inilah nikmatnya kita beriman pada qadha dan qadar Allah.

Imam pada qadha dan qadar Allah tidak berarti kamu tidur-tiduran menunggu jatahmu datang jatuh dari langit, langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak! tetapi kamu harus giat bekerja dan berusaha, berbuatlah dan berusahalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, berusahalah semaksimal mungkin mengumpulkan harta dengan cara halal, berjalanlah ke ujung dunia manapun demi mengais rezeki, kalau perlu bongkar itu perut bumi untuk mendapatkan rezeki jatahmu, kalau sudah berusaha seperti itu, tapi tetap saja belum dapat, kamu tidak perlu putus asa dan bunuh diri, “Aku sudah berusaha semampuku, tapi Allah belum memberiku, mungkin inilah takdir-Nya untukku, aku rela itu, ya Rabb…”.

Inilah esensi imam pada takdir Allah dalam Islam, bukan malas-malasan dan mencari-cari alasan pada akhirnya menyalahkan Tuhan. Ingatkan sebuah riwayat dalam sebuah hadis, ada seorang laki-laki mendatangi rasulullah, sedangkan Rasulullah di dalam masjid, dia meninggalkan untanya di depan masjid tanpa ikatan, setelah dia keluar, untanya sudah hilang, “Ya Rasulullah, aku meninggalkan untaku di depan masjid, dan aku bertawakkal pada Allah, tapi sekarang hilang!”, beliau bersabda, “ikat untamu dengan baik, baru tawakkal”.

Inilah dia iman, Allah menjadikan rezeki pada usaha, menumbuhkan tumbuhan kalau ditanam dan dipupuki, kesembuhan akan datang kalau berobat. kalau Cuma duduk, menunggu untuk, tidak aka nada untung. kalau Cuma duduk menunggu panen, tidaka aka nada panen. akalu Cuma duduk menahan sakit tanpa berobat, taka aka nada kesembuhan.begitulah hukum Tuhan, Allah tidak akan mengubah hukum itu demi orang-orang malas dan orang pengecut. berbuatlah dan berusahalah, dan ingat jangan sampai putus asa merasukimu, dan jangan sampai dengki memasuki hatimu, sehingga kamu iri melihat gaji orang lain lebih dari gajimu.

Kalau sudah merasa ada kedengkian dan iri dalam hatimu, cobalah kamu duduk dan istirahat, pikirkan apa yang kamu punyai, terkadang banyak nikmat Allah yang kamu miliki, padahal kalau dipikir kamu tidak pantas menerimanya, tapi itulah kehendak Allah, maka terimalah apa yang kamu punya, dan biarkan orang lain menikmati apa yang mereka miliki.
Filsafat rezeki sangat rumit, memang cukup susah dipahami dan dimengerti. lihatlah, ada orang yang menyelami dasar lautan, itu karena memang Tuhan meletakkan sepiring nasinya didasar laut sana, ada lagi yang menajdi pilot atau pramugari, harus terbang ke langit sana, karena Tuhan meletakkan rezeki mereka di langit sana. ada lagi pekerja tambang, mereka harus mengorek perut bumi, karena Tuhan meletakkan jatah mereka dibawah sana. ada lagi kuli bangunan, yang harus mengambil rezekinya setelah menghancurkan bebatuan. ada lagi para pemain sirkus, yang rezeki ada di mulut singa dan dibawah kaki gajah.

Bersyukurlah kamu tidak seperti mereka, rezekimu ada di atas meja, kamu duduk santai, rezekimu datang. tidak perlu naik ke langit, atau menyelami dasar laut, atau harus berdiri di bawah kaki gajah.

Kamu mengatakan, bahwa temanmu itu tidak lebih baik dan tidak lebih pintar darimu, tapi gajinya lebih besar. lihat, bukankah itu kelebihanmu yang patut kamu syukuri?

Apakah kebahagiaan selamanya pada uang, broe? apa gunanya uang kalau tidak bisa membeli kebahagiaan, ketenangan hidup, amal shaleh? harta itu Cuma sarana menuju kebahagiaan, salah satu jalan menuju kebahagiaan, kalau dengan hartamu tidak bisa membawamu menuju keridhaan Tuhan, uangmu yang berlimpah itu tidak lebih dari kertas!
Ada cerita seorang laki-laki memilik dua doa yang pasti terkabulkan, akhirnya dia berdoa, “ya Tuhan, jadikan apa yang kupegang menjadi emas”. akhirnya doa itu terkabulkan, dia senang sekali. diapun mulai memegang apa saja, apa yang disentuhnya menjadi emas. sampai akhirnya dia lapar, dia menyentuh makanan dalam piring, makananpun jadi emas, dia menyentuh gelas mau minum karena kehausan, airpun menjadi emas. akhirnya dia duduk sendiri kehausan dan kelaparan. tiba-tiba anak putrinya datang menghiburnya, diapun memeluk putrinya itu, putrinya pun menjadi emas. akhirnya dia berdoa kedua kalinya, “ya Allah, jadikanlah semua seperti semula”, karena dia sadar saat lapar hanya nasi yang dia butuh, saat haus hanya air yang dia inginkan, dan tak ada harta yang lebih berharga bagi seorang ayah kecuali anak, itu semua lebih baik dari dunia dan isinya.

Kamu, dengan sedikit gajimu, kalau kamu benar-benar bisa mengaturnya, kamu bisa lebih bahagia dari mereka yang gajinya jauh lebih tinggi darimu. aku kenal seorang yang gajinya sebulan sama dengan gajiku setahun, tapi aku lebih bahagia dari dia. aku tidak berpakaian lebih mahal dari pakaian dia, tidak makan lebih enak dari makanan dia, tidak juga memiliki hiburan lebih dari yang dia miliki, hanya saja aku ikhlas dan rela dengan apa yang ku miliki, sedangkan dia tidak, selalu saja merasa kekurangan.

Selain itu, aku juga memiliki nikmat bisa membaca berbagai macam buku dalam beberapa bahasa, dia tidak. bahkan dia serang datang padaku bertanya tentang hukum-hukum tertentu dan aku menjawabnya. aku tidak pernah butuh padanya, aku tidak butuh hartanya, yeng membedakan aku dengan dia adalah harta saja. kalau kita bersyukur, harta sedikit membuat kita tenang, tapi kalau tidak bersyukur, dunia dan seiisinya kita miliki tidak akan puas.

Sekarang, temanmu itu gajinya jauh lebih banyak darimu, memang apa yang bisa dia lakukan? bisakan dia makan 10 piring sekalian? bisa tidur di atas 10 kasur sekalian? naik 2 mobil mewah dalam satu waktu? kecuali kalau dia mau berfoya-foya membuang-buang harta, kalau itu yang dilakukan, income 10 tahun bisa dihabiskan 1 jam! bisa dihabiskan 1 malam saja untuk bersenang-senang dengan wanita! bisa saja dia merokok dengan tembakau yang dibungkus dengan uang 100 dolar! tapi ini semua perbuatan orang bodoh! kita sedang membicarakan orang waras dan normal.

Besok di kuburan, semuanya sama di mata ulat dan cacing, tidak ada perbedaan antara mayat raja dengan mayat pemulung, semua dimakan ulat. yang tersisa di dunia hanya kenangan, dan amalan disimpan untuk akhirat.
Nikmatilah setiap menit dari kehidupanmu dengan kebahagiaan bersyukur… ternyata kebahagiaan itu ada dalam syukur dan legowo….dan kesengsaraan itu ada dalam kedengkian dan iri hati.




No comments:

Facebook Comment